Page 73 - KUMPULAN_CERPEN_FLIPPING BOOK
P. 73
bosnya, “Oh iya, Bu. Pak Sekdis titip pesan, katanya mohon
balasan pesan beliau, begitu. Kurang tahu juga pesan apa yang
dimaksud.”
Bulir-bulir keringat terbit di pelipis Andini, padahal
ruangan itu ber AC. “Eh iya Pak Didik. Sampaikan saja pada Pak
Sekdis, sebentar lagi pasti saya balas,” cicitnya. Pak Didik pasti
tahu soal pesan itu, batinnya gelisah. Untung saja notifikasi adzan
maghrib di telepon seluler Andini berbunyi, ia jadi menemukan
jalan kabur, untuk sementara. “Saya minta waktu untuk sholat
dulu Pak, sudah beberapa hari mepet-mepet terus sholat saya
karena sibuk,” kata Andini berbasa-basi.
“Baik Ibu, silakan,” jawab Pak Didik sambil mengulas
senyum penuh pengertian. Setelah berkata demikian staf
Sekretaris Dinas itu pun keluar ruangan meninggalkan Andini.
Begitu pintu tertutup, pikiran Andini melayang ke rumah.
Teringat ia akan perkataan suaminya pagi ini sambil menatap
hujan di luar rumah mereka yang sederhana. “Coba kita sudah
bisa nyicil mobil ya, Ndin,” kata suaminya pagi ini. “Nggak akan
bingung kita gimana caranya ngantor kalau lagi hujan.”
“Semua ada waktunya, Mas,” jawab Andini sabar. “Oh ya,
tadi Ibu aku telpon, bulan depan waktunya Dik Ika bayar UKT.
Boleh ya, aku transfer?”
Rico tersenyum kecut, “Iya Ndin transfer aja. Tapi maaf ya,
aku nggak bisa share kali ini. Mama butuh uang berobat.”
Kumpulan Cerpen 65