Page 81 - KUMPULAN_CERPEN_FLIPPING BOOK
P. 81
Aku tergagap dengan pertanyaannya yang tiba-tiba.
Kujawab dengan cengiran. Sesaat kemudian kusesali hal
itu. Bukankah sebaiknya kupasang senyum paling cantik di
hadapannya?
“Meski kamu hidup sendirian, kamu tetap butuh uang.
Untuk bertahan hidup.”
Aku mengangguk mengiyakan. Tapi batinku menolak
untuk menjadi budak. Karena uang bisa berubah menjadi monster
yang membalikkan hidup. Memutar balikkan fakta. Mengangkat
tinggi hingga ke langit lalu menjatuhkannya kembali kebumi.
Sakit bukan? Lebih baik tidak berurusan dengan uang semacam
itu. Yang terasa nikmat pada awalnya lalu membunuh pada
akhirnya.
“Kamu nggak ingin kaya, Nik?”
Aku tak paham, kemana arah obrolan kita. Oh, bukan kita.
Aku lebih banyak diam, karena segala perbantahan itu tak pernah
terucap dari bibirku. Aku hanya membatin, hingga otakku terasa
penuh sesak. Lalu muncullah pusing. Vertigo selalu saja kambuh
kala mencoba memikirkan hal-hal diluar kemampuannya. Otakku
hanya mampu menyerap pendidikan sekolah dasar. Karena
memang hanya hal-hal dasar yang aku butuhkan untuk bertahan
hidup. Meski begitu, otakku selalu bersedia memikirkan dia.
Bagaimana harinya. Apakah dia makan dengan baik. Bagaimana
dengan pekerjaannya. Apakah semua berjalan lancar? Sungguh
Kumpulan Cerpen 73