Page 80 - KUMPULAN_CERPEN_FLIPPING BOOK
P. 80

“Bisakah kami melihat-lihat sebentar ke dalam warung?”

                 Bibirku bergetar. Membayangkan hal ini akan terjadi
          sepagian tadi,  dan ini bener-benar  terjadi didepan  mata.

          Bulu kudukku menegak. Gerimis  kecil menetesi wajahku. Aku
          mendongak menatap langit yang tiba-tiba menangis. Teringat
          malam itu. Hujan menyambangi bumi. Hawa dingin merasuki

          tubuh. Hadi merokok di pojokan dengan mata sendu. Cangkir
          kopi tak disentuhnya sama sekali. Aku lupa memberinya tutup
          gelas, uap kopi mengudara bercampur asap rokok, meninggalkan
          air hitam dingin di meja.


                 “Aku juga ingin seperti orang-orang. Makan enak. Jalan-
          jalan. Punya rumah gedong. Punya pacar cantik.” Gumamnya. Aku
          menoleh sembari mengelap gelas dan sendok yang baru saja
          mentas dari pencucian gerabah kotor. Kalimat terkahir sempat
          membuat dadaku berdegup kencang. Segera kuselesaikan

          pekerjaan dan duduk di kursi dekat Hadi. Aku sengaja duduk tak
          terlalu dekat dengannya, tetapi aku siap mendengarkan. Kututup
          telinga kiri dengan telapak tangan dan membiarkan yang kanan

          terbuka penuh untuknya.

                 Satu dua kalimat terlontar dari bibirnya. Aku yakin Hadi
          menyebut kata ‘uang’. Manusia ibarat budak uang.  Tak punya
          uang tak bisa hidup. Sebaliknya jika berlebihan memilikinya kita

          bisa saja kehilangan nyawa.

                 “Bagaimana menurutmu, Nik?”




           72   Kumpulan Cerpen
   75   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85