Page 429 - BUKU KATA FADLI CATATAN KRITIS DARI SENAYAN
P. 429
Dr. Fadli Zon, M.Sc
masyarakat umum, terkait mana versi yang benar dalam menyanyikan lagu
Indonesia Raya. Dari sudut legal, kedua-duanya memang dibenarkan. Tapi
mewajibkan menyanyi lagu kebangsaan dengan tiga stanza akan menabrak
praktik dan konvensi yang telah melembaga di tengah masyarakat kita
selama puluhan tahun.
Kedua, kalau kita membaca kembali Pasal 60 dan 61 UU No. 24/2009,
lagu kebangsaan kita memang diutamakan untuk dinyanyikan dengan cara
satu stanza, sebab cara inilah yang pertama kali disebut dalam undang-
undang. Bahkan, ada tiga ayat yang mengatur bagaimana menyanyikan
lagu kebangsaan dengan satu stanza. Adapun Pasal 61, yang membuka opsi
dinyanyikan lengkap tiga stanza, posisinya hanya opsional saja, sekadar
alternatif, yang ditandai oleh kata “apabila” di awal pasal.
Sekali lagi, tidak salah jika kita menyanyikan lengkap tiga stanza.
Tapi karena secara teknis durasi menyanyikan lagu kebangsaan akan jadi
lebih panjang, dari semula 2 menit kemudian menjadi lebih dari 4 menit,
sejak dulu opsi tiga stanza ini tak pernah dikedepankan oleh undang-
undang dan peraturan protokoler yang berlaku.
Jadi, saya berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
meninjau kembali edaran yang meminta siswa dan sekolah wajib
menyanyikan lagu kebangsaan dalam versi lengkap tiga stanza. Kalau
hanya agar siswa tahu dan hapal untuk kepentingan pelajaran sejarah atau
pelajaran kesenian, saya kira tak ada masalah. Namun menjadi bermasalah
jika hal itu dijadikan kewajiban, apalagi jika harus diperdengarkan dalam
tiap upacara, karena hal itu bisa membingungkan, baik siswa, guru,
maupun masyarakat secara umum.
Dari sudut pandang yang lebih luas, kita juga harus sama-sama
memahami jika lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dalam perjalanan
sejarahnya pernah memiliki sejumlah versi lirik dan versi menyanyikan.
Dalam teks awalnya, misalnya, yang digubah oleh Wage Rudolf Supratman,
tidak ada kata “Merdeka” di dalamnya. Ada yang menyebut W.R. Supratman
sengaja menyembunyikan kata “Merdeka” itu dengan kata ganti “Moelia”,
agar tak dibredel Belanda. Dan, kenyataannya kata “Merdeka” memang
baru muncul jauh kemudian. Aransemennya juga beberapa kali mengalami
penyempurnaan. Tempo, dan aransemennya terakhir disempurnakan oleh
454 KATA FADLI