Page 278 - BUKU NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN
P. 278
MENYERAP ASPIRASI MENCIPTAKAN SOLUSI
NATIONAL INTEREST DAN AGENDA PEMBANGUNAN
investasi juga terus membengkak. Janji tidak akan menggunakan dana APBN,
kenyataannya pemerintah telah mengucurkan dana untuk mem-backup
kelangsungan proyek ini. Inilah yang kemudian melahirkan pertanyaan besar,
apakah pemerintah telah mengkaji dengan sepenuhnya validitas kelayakan
proyek yang ditawarkan China?
Dalam pandangan Rachmat Gobel, dilihat dari progres kinerja proyek
sampai saat ini, munculnya pertanyaan itu bisa dimaklumi. Konsekuensinya
terhadap kepentingan nasional memang sangat besar. Pembengkakan biaya
investasi (over run) akan berdampak besar pada kemampuan pengembalian
dana investasi itu sendiri, dan bisa dipastikan masalahnya akan bermuara
risiko kenaikan tarif dan kualitas pelayanan kereta ini kepada masyarakat luas.
KCIC sudah dua kali mengumumkan terjadinya over run. Pertama pada
2018, KCIC mengatakan biaya investasi naik menjadi US$ 6,071 miliar atau
setara Rp 86,5 triliun. Kedua pada Oktober 2021, KCIC kembali mengumumkan
biaya investasi naik lagi menjadi US$ 7,97 miliar atau setara Rp 114,24 triliun.
Angka sudah jauh melebihi penawaran awal China US$ 5,585 miliar, bahkan
sudah melewati angka yang diajukan Jepang US$ 6,223 miliar.
Beban berat proyek ini semakin terasa, karena 75% dari biaya
pembangunan berasal dari pinjaman China, hanya 25% dari modal KCIC. Meski
dikatakan bahwa pinjaman ini tidak dijamin pemerintah, tapi fakta bahwa ada
empat (4) BUMN yang terlibat sebagai pemegang saham tentu tidak bisa
menghilangkan kekhawatiran dampaknya
pada pemerintah dan akhirnya juga akan
menjadi beban rakyat banyak.
Sayangnya, tidak ada sikap yang tegas
pemerintah terhadap kinerja KCIC. Alih-
alih memberi sanksi, pemerintah malah
merevisi Perpres No 107 Tahun 215 dengan
mengeluarkan Perpres No 93 tahun 2021.
Dalam Perpres yang baru ini, pemerintah
seakan-akan mengamini saja terjadinya
pembengkak biaya investasi yang diajukan
KCIC, padahal nilainya sudah jauh lebih besar
dari proposal awal, bahkan jauh melebihi
penawaran Jepang.
286 dpr .g o.id