Page 387 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 387

dimaksud dalam domein verklaring tersebut sayangnya hanya ditafsirkan
            sebatas hak-hak penguasaan yang diakui menurut hukum kolonial. Hak-hak
            penguasaan menurut hukum adat yang secara empiris hidup dan berlaku
            di masyarakat Indonesia pada masa itu dikesampingkan begitu saja.
                 Alih-alih menempatkan hak penguasaan tanah masyarakat lokal sejajar
            dengan hak kolonial, Pemerintah Belanda justru menegaskan dominasi
            hak-hak kolonial melalui pembedaan tanah negara ke dalam 2 (dua) jenis
            yaitu “tanah negara bebas” (vrij lands/staatsdomein) dan “tanah negara tidak
            bebas” (onvrij lands/staatsdomein).
                 “Tanah negara bebas” (woeste gronden) adalah tanah-tanah yang belum
            dimiliki atau dikuasai oleh individu, kelompok, maupun badan hukum.
            Termasuk dalam pengertian tanah negara bebas ini adalah hutan rimba,
            tanah terlantar dan tanah-tanah ini yang berdasarkan Pasal 3 Agrarisch
            Wet  dinyatakan sebagai tanah yang berada di luar kawasan desa (buiten
            dorpsgebied). Tanah semacam ini lazim juga dikenal sebagai tanah GG.
            Sedangkan “Tanah negara tidak bebas” adalah tanah-tanah yang sudah dan
            sedang dikuasai, diduduki, digunakan, dan dimanfaatkan secara nyata oleh
            individu maupun kelompok, yang lazimnya penguasaan atas tanah tersebut
            didasarkan pada hukum-hukum adat. Tanah negara tidak bebas dikenal juga
            sebagai bouwvelden. Tanah-tanah yang secara nyata dikuasai dan dikelola
            oleh masyarakat pribumi, namun tidak dapat dibuktikan kepemilikannya
            secara formal, pada akhirnya dianggap sebagai bagian dari tanah negara
            tidak bebas tersebut.
                 Pendekatan yang digunakan Pemerintah Kolonial dalam memaknai
            tanah negara di atas menempatkan HMN pada masa kolonial sebagai hak
            yang tertinggi atau hak induk atas hak-hak atas tanah lainnya. Pemerintah
            Kolonial menjadi pusat kekuasaan sekaligus penguasa tertinggi atas tanah-
            tanah di wilayah jajahannya.  Pernyataan domein tersebut juga membawa
                                      13
            konsekuensi bagi dibukanya akses korporasi swasta dalam penguasaan tanah
            di Hindia Belanda, yang mana seringkali juga dikatakan sebagai momentum
            kemenangan kaum liberal di negeri Belanda terhadap kaum konservatif.


                 13 Semangat yang sama, bahwa negara memegang kekuasaan tertinggi atas tanah dan sumber
            daya alam, sebenarnya juga muncul pada Masa Orde Lama dan juga pemerintahan Orde Baru.
            Menariknya, meskipun menggunakan semangat yang tidak jauh berbeda, tujuan dari menempatkan
            negara sebagai penguasa tertinggi atas tanah dan sumber daya alam pada ketiga fase sejarah tersebut
            justru bertolak belakang. Pada sub bab selanjutnya akan disampaikan tujuan-tujuan yang bertolak
            belakang tersebut.


            356      Hubungan Keagrariaan
   382   383   384   385   386   387   388   389   390   391   392