Page 390 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 390

kemerdekaan, UUPA juga menjadi basis utama bagi kebijakan agraria
             Indonesia di masa-masa berikutnya. Pemaknaan terhadap HMN sejak
             awal diundangkannya UUPA hingga saat ini telah bergeser beberapa
             kali. Pergeseran tersebut disebabkan salah satunya oleh pergeseran atas
             pandangan bernegara dimana ketika UUPA dibentuk, trauma bangsa
             Indonesia terhadap kolonialisme menjadi titik tolak atas pilihan sikap
             politik dalam dan luar negeri Indonesia yang pada akhirnya sarat dengan
             suasana nasionalisme dan kesatuan bangsa serta  upaya penolakan
             sepenuhnya terhadap pengaruh-pengaruh pemerintah kolonial yang berlaku
             sebelumnya. Namun penolakan yang lebih bersifat ideologis tersebut tidak
             mampu diterjemahkan dalam rencana strategis yang konkret dan aplikatif.
             Pada akhirnya, meskipun secara konseptual dan filosofis tampak keinginan
             kuat untuk membangun negara Indonesia yang sama sekali baru, dalam
             praktek para pembentuk hukum dan struktur kenegaraan pada masa itu
             tidak dapat melepaskan diri dari gaya pemerintah kolonial mengelola
             Hindia Belanda.
                   Soetandjo Wignjosoebroto mencatat penyebab hal tersebut salah
             satunya adalah karena para pembentuk negara pasca kemerdekaan,
             meskipun menggelorakan semangat revolusioner yang tinggi, adalah orang-
             orang yang memperoleh pendidikan dan pengetahuan dalam tradisi hukum
             Roman-Germanik yang juga mendominasi cara berhukum pemerintah
             kolonial. Disamping itu, keragaman hukum rakyat yang hidup di Indonesia
             dan ditambah lagi telah ajegnya pranata dan tata hukum kolonial sebelum
             Indonesia merdeka, membuat semangat membangun hukum Indonesia
             yang benar-benar baru mendapat kesulitan dan rintangan besar. 15
                   Ketika UUPA dibentuk, semangat yang ingin dinyatakan salah
             satunya adalah semangat untuk meninggalkan hukum kolonial sebagai
             dasar hukum penguasaan tanah pasca kemerdekaan. Oleh karena itu tegas
             dinyatakan bahwa UUPA dibentuk berdasarkan hukum adat. Hal ini tegas
             dinyatakan dalam Pasal 5 UUPA yang berbunyi:

                   Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah
                   hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional
                   dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme


                   15 Soetandjo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional: Dinamika Sosial-
             Politik dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, Edisi Revisi, Huma; VVI; KITLV dan Epistema,
             Jakarta, Hlm. 175-176


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  359
   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395