Page 394 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 394

Kedudukan negara dalam pandangan HMN adalah untuk menguasai
             (beheren) dan melakukan pengawasan (toezichthouden) dan bukan sebagai
             pemilik (algenaar). Konsep ini yang membedakan Rezim Orde Lama
             dengan Rezim Kolonial yang berkuasa sebelumnya. Domein Verklaring
             sebagai warisan kolonialisme secara tegas dihapuskan dalam UUPA. Tanah-
             tanah yang penguasaannya berdasarkan hukum adat diakui, meskipun
             tidak memiliki legitimasi formal yang menunjukkan bukti kepemilikan
             sebagaimana yang diminta oleh Pemerintah Kolonial.
                   Berkaitan dengan hubungan antara HMN dan Hak Komunal,
             terutamanya Hak Ulayat, muncul juga pandangannya yang menyimpulkan
             bahwa HMN merupakan kontekstualisasi Hak Ulayat dalam bingkai
             kedaulatan wilayah yang lebih besar. HMN dianggap merupakan Hak
                                                                               18
             Ulayat yang melekat pada bangsa Indonesia sebagai sebuah negara.
             Pandangan ini didasarkan pada kedudukan Masyarakat Hukum Adat di
             Indonesia pada masa pra-kemerdakaan. Ketika Negara Kesatuan Republik
             Indonesia belum memperoleh bentuknya secara yuridis formal, masyarakat
             hukum adat telah terlebih dahulu mengenal adanya hak-hak komunal
                                               19
             yang kerap disebut sebagai hak ulayat , yang mana diyakini pula menjadi
             induk dari hak-hak lain yang sifatnya individual. Hak ulayat merupakan
             bentuk perwujudan community sovereignity atas wilayah dan sumber daya
             alamnya, sehingga individu-individu yang bermaksud memanfaatkan
             tanah atau sumber daya alam yang berda pada wilayah kedaulatan tersebut
             harus memperoleh ijin terlebih dahulu dari masyarakat hukum adat atau
             otoritas yang mewakili masyarakat hukum adat setempat. Sebagai contoh
             masyarakat tradisional Jawa mengenal lembaga srama dan messi sebagai
             sebuah bentuk pengakuan pihak penggarap atas kedaulatan dan hak atas
             tanah dari pihak pemilik tanah. Srama dan messi tersebut merupakan
             pemberian yang tidak ditentukan nilainya, yang diserahkan oleh pihak
             penggarap tanah kepada penggarap tanah.





                   18 Wawancara dengan Andiko, Direktur Eksekutif HuMA pada Hari Senin Tanggal 8
             September 2014 di Kantor HuMA, Jakarta.
                   19 Hak Ulayat meruapakan istilah yang populer digunakan dalam khazanah hukum Indonesia
             untuk menyebut hak komunal masyarakat hukum adat. Meskipun pada kenyataannya istilah hak
             ulayat lebih merujuk pada hak komunal masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Para sarjana
             Hukum Adat menyebutnya dalam istilah yang berbeda seperti: Hak Pertuanan (Soepomo); Hak
             Purba (Djojodigoeno)


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  363
   389   390   391   392   393   394   395   396   397   398   399