Page 396 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 396

Orientasi kebijakan agraria yang dijalin oleh Pemerintah Orde Baru
             ibarat melihat “anggur lama dalam botol yang baru”. Domein verklaring yang
             digagas pemerintah kolonial untuk memastikan kepemilikan negara atas
             tanah, sehingga pada akhirnya keran investasi dapat dibuka selebar-lebarnya
             untuk perusahaan perkebunan swasta, menjelma kembali dalam pemaknaan
             HMN a la Orde Baru. Usep Setiawan menggambarkan sebagai berikut:

                   Faktanya, dalam banyak kasus sengketa tanah struktural sejak Orde
                   Baru konsep HMN atas tanah dan sumber agraria lainnya telah secara
                   salah dimaknai dan dipraktikkan selaiknya asas domein verklaring yang
                   menempatkan pemerintah sebagai penyelenggara negara seolah-olah pemilik
                   tanah. Konsepsi barat ini telah dikubur UUPA No. 5/ 1960, kemudian
                   diteguhkan bahwa bangsa Indonesialah pemilik tanah sebagai karunia
                   Tuhan Yang Maha Esa. 20

                   Pada tahun 1981, melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri No.
             189 Tahun 1981, Pemerintah Orde Baru mencanangkan Proyek Operasi
             Nasional Agraria (PRONA) yang merupakan salah satu bentuk kegiatan
             legalisasi asset yang meliputi; adjudikasi, pendaftaran tanah sampai dengan
             penerbitan sertipikat/tanda bukti hak atas tanah dan diselenggarakan secara
                    21
             massal.  Penduduk dari desa miskin/tertinggal, daerah pertanian subur atau
             berkembang, daerah penyangga kota, pinggiran kota atau daerah miskin
             kota, dan daerah pengembangan ekonomi rakyat menjadi sasaran utama
             program PRONA.
                   Bila dipandang dari kacamata kepastian hukum, PRONA dapat
             dikatakan sebagai proyek sukses yang menjamin kepastian penguasaan
             tanah oleh masyarakat kecil dan stabilitas ekonomi di tingkat nasional. Tiga
             tahun setelah kebijakan PRONA dicanangkan dan didukung oleh program
             revolusi hijau yang telah dimulai sejak akhir dekade 60-an, Indonesia
             berhasil mencapai swasembada beras pada Tahun 1984.
                   Namun apabila melihat orientasi pembangunan pemerintah Orde Baru
             kala itu, kepastian hukum yang dimunculkan sebagai konsekuensi sertifikasi
             tersebut pada akhirnya hanya menguntungkan korporasi-korporasi swasta
             yang menanamkan modal di Indonesia dan para petani yang memiliki lahan
             pertanian luas. Ditengah himpitan ekonomi masyarakat petani pedesaan

                   20 Usep Setiawan, 2010, Kembali ke Agraria, STPN Press, Yogyakarta, Hlm. 317.
                   21 http://www.bpn.go.id/Program-Prioritas/Legalisasi-Aset/Program-Program/Sertipikasi-
             PRONA, diakses pada Hari Kamis, Tanggal 30 Oktober 2014, Pukul 17:47 WIB


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  365
   391   392   393   394   395   396   397   398   399   400   401