Page 397 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 397

dan ketersediaan lapangan kerja di dunia industri yang menggiurkan,
            Program PRONA justru mendorong terciptanya pasar tanah dimana petani
            dengan luas tanah terbatas akhirnya melepas tanah pertanian mereka dan
            kemudian bergabung ke dalam kelompok masyarakat industri. Pelepasan
            tersebut dimudahkan secara hukum karena tanah-tanah milik petani kecil
            tersebut telah bersertifikat.
                 Berbeda halnya ketika sertifikat bukanlah komponen penting dalam
            penguasaan tanah di Indonesia. Menurut konsep lokal, hubungan antara
            warga masyarakat tempatan dengan tanah tidak diukur melalui kepemilikan
            atas sertifikat, melainkan dengan riwayat penggarapan tanah secara turun
            temurun, pengakuan tokoh-tokoh adat, dan kesaksian tetangga sekitar. Oleh
            sebab itu, pembuktian penguasaan tanah lebih berpegang pada struktur
            budaya dibandingkan dengan legal formal. 22
                 Meskipun dari sudut pandang ekonomi peningkatan produksi padi
            dapat dianggap sebagai sebuah prestasi, pada kenyataannya program
            intensifikasi padi ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan jutaan petani
            miskin dan petani yang tidak mempunyai tanah (landless). Peningkatan
            produksi padi di sisi yang berbeda justru menimbulkan peningkatan
            pengangguran, kemiskinan, ketidakadilan dalam distribusi pendapatan.
            Booming produksi padi pada akhirnya hanya menjadi milik para tuan tanah
            dan pegawai di tingkat desa yang menguasai hampir semua sawah yang ada. 23


            4.   Masa Reformasi

                 Pasca reformasi, pandangan bernegara bergeser kembali melalui upaya
            desentralisasi, tidak hanya terhadap sistem pemerintahan, melainkan juga
            struktur kewenangan dan struktur penguasaan atas wilayah. Negara dalam
            konteksnya sebagai state dianggap sejajar dengan individu-individu yang
            tergabung dalam ikatan politik bernama bangsa.
                 Politik pasca Orde Baru merefleksikan logika dan mekanisme ‘politik
            baru’ bagi masyarakat (dan elit) di semua level kepolitikan. Kesadaran






                 22 Ade Saptomo, 2004, Di Balik Sertifikasi Hak atas Tanah dalam Perspektif Pluralisme Hukum,
            Jurnal Jurisprudence, Vol. 1, No. 2, September 2004, Hlm. 208.
                 23 Budi Winarno, 2008, Gagalnya Organisasi Desa dalam Pembangunan di Indonesia, Tiara
            Wacana, Yogyakarta, Hlm. 12.


            366      Hubungan Keagrariaan
   392   393   394   395   396   397   398   399   400   401   402