Page 393 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 393

harus pula diusahakan supaja tanah jang dimiliki itu tjukup hasilnja
                 untuk mendjamin hidup jang bertjahaja bagi pak tani, tjukup untuk
                 dimakannja sekelurga serta dengan lebihnja untuk pembeli pakaian
                 serta keperluan lainnja, pembajar padjak, iuran perkumpulan serta
                 ongkos sekolah anaknja. Milik tanah jang terlalu ketjil mengembangkan
                 pauperisme, kemelaratan hidup, dan harus dikoreksi dengan djalan
                 transmigrasi. Pemindahan hak milik tanah ketangan orang lain hanja
                 boleh dengan seizin pemerintah desa (lurah dengan badan perwakilan
                 desa). Milik tanah berarti dalam Republik Indonesia menerima suatu
                 kewadjiban terhadap produksi dengan pedoman: menghasilkan
                 sebanjak-banjaknja untuk memperbesar kema’muran ra’jat. Tanah milik
                 jang terlantar, tidak dikerdjakan, berarti suatu keteledoran terhadap
                 masjarakat dan hak miliknja itu harus diambil oleh negara.”

                 HMN sebagai sebuah konsep politico-legal sejak masa awal
            kemedekaan telah dipahami dalam konteks yang berbeda-beda. Ada
            pendapat yang memaknai bahwa HMN adalah hak indul yang tertinggi,
            hak yang paling kuat posisinya dibandingkan dengan hak-hak atas tanah
            individual. Pendapat ini mengacu pada tradisi hukum perdata barat dengan
            konsep Hak Eigendom yang menganggap “Eigendom world beschouwd
            als een moderrecht, als een en ondeelbaar, als exklusieve en meest vooldige
            bevougdheld”. Bahwa hak milik dipandang sebagai induk dari hak-hak
            lainnya, tidak dapat terbagi-bagi , ekslusif dan merupakan hak yang paling
            kuat.
                 Pendapat lain menganggap bahwa hak milik dalam konsep
            eigendom tidak dapat dipandang sebagai hak induk yang ekslusif dan
            paling kuat diantara hak-hak lainnya. Konsep penguasaan dan pemilikan
            tanah dalam UUPA berbeda dengan konsep pemilikan dan penguasaan
            menurut Burgerlijk Wetboek. HMN (staatseigendom atau staatsdomein)
            sebelum UUPA mendapatkan kedudukannya dalam pasal 570 B.W. yang
            mempersamakan hak milik atau HMN seperti layaknya hak-hak indivual
            lain atas properti. Selain itu terdapat juga hak negara yang tergolong sebagai
            publiek domein atau hak negara atas aset dan properti yang digunakan untuk
            memenuhi kepentingan umum, seperti: pengadilan, gedung sekolah, dan
                                 17
            gedung pemerintahan.




                 17 Achmad Sodiki, 2013, Politik Hukum Agraria, Konstitusi Press, Jakarta, hlm. 177.


            362      Hubungan Keagrariaan
   388   389   390   391   392   393   394   395   396   397   398