Page 395 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 395

3.   Masa Orde Baru
                 Pemerintahan Presiden Soeharto, dengan latar belakang politik dan
            ideologi yang secara signifikan berbeda dengan rezim Orde Lama, juga
            membawa perubahan yang cukup besar dalam menerjemahkan UUPA ke
            dalam kebijakan agraria yang lebih operasional. Semangat yang muncul
            tidak lagi untuk menegaskan kedaulatan negara terhadap pihak asing,
            melainkan justru membuka pintu terhadap investasi asing yang mana
            komitmen tersebut membutuhkan kepastian hukum hak atas tanah dan
            posisi penguasaan atas wilayah yang kuat oleh negara. HMN pada masa
            tersebut menjadi alat negara dalam menekan hak-hak individual dan
            komunal yang berada di bawahnya.
                 Pasca gejolak politik yang dikenal dengan istilah G30S/PKI yang
            disusul tumbangnya Pemerintahan Orde Lama, pemerintah Orde Baru
            memulai awal rezimnya dibawah kepemimpinan Jenderal Soeharto. Rezim
            Orde Baru mengambil langkah awal dengan memperbaiki basis kebijakan
            ekonomi yang jatuh di saat-saat terakhir era pemerintahan Soekarno.
            Melalui kebijakan keterbukaan terhadap penanaman modal asing, para
            investor luar negeri diberikan kesempatan untuk turut serta dalam pasar
            dan perekonomian Indonesia. Kebijakan tersebut dikukuhkan dalam UU
            No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing.
                 Presiden Soeharto juga mengambil langkah untuk bergabung dengan
            dengan berbagai institusi ekonomi internasional, seperti: International
            Bank for Rescontruction and Development (IBRD), International
            Monetary Fund (IMF), International Development Agency (IDA) dan
            Asian Development Bank (ADB). Melalui keterlibatan Indonesia pada
            berbagai institusi tersebut, pembangunan ekonomi Indonesia pada
            awal era Orde Baru mulai dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan asing.
            Imbalannya, Indonesia memperoleh pinjaman dana yang cukup besar untuk
            menyelenggarakan pembangunan ekonomi dan pemerintahan.
                 Kebijakan swasembada pangan kemudian menjadi tindak lanjut dari
            kebijakan ekonomi Orde Baru. Melalui program Rencana Pembangunan
            Lima Tahun (REPELITA), Indonesia mengakselerasi berbagai program
            yang mendukung terciptanya swasembada pangan. Melalui intensifikasi
            pertanian, perluasan lahan pertanian, dan industrialisasi pertanian yang
            telah dimulai sejak akhir dekade 60-an,  Indonesia memulai kebijakan
            Revolusi Hijaunya (Green Revolution).



            364      Hubungan Keagrariaan
   390   391   392   393   394   395   396   397   398   399   400