Page 400 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 400

2002 tentang Ketenagalistrikan; UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang
             Pertambangan Mineral dan Batu Bara  dan UU Nomor 27 Tahun 2007
             tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

                   Meskipun berada dalam kerangka desentralisasi, orientasi yang
             berkembang atas HMN pasca reformasi masih berupaya menunjukkan
             posisi negara sebagai pemegang kekuasaan yang berada di atas rakyatnya.
             Penguasaan sumber daya alam ditempatkan pada tujuan kapitalistik dari
             perusahaan-perusahaan tambang, perkebunan dan usaha-usaha eksploitatif
             lainnya. Masyarakat lokal hanya menjadi obyek yang kerap kali tidak
             dilibatkan partisipasinya dalam menyusun kebijakan dan rencana strategis
             pemanfaatan sumber daya alam.
                   Hadirnya MK sejatinya memberikan peluang bagi upaya koreksi atas
             ketimpangan penguasaan tersebut, sekaligus juga mengoreksi pemaknaan
             yang keliru atas HMN yang berkembang pasca-reformasi.


             B.    Pandangan Mahkamah Konstitusi terhadap Filosofi dan
                   Konsep Hak Menguasai Negara (HMN)

             1.    Filosofi Hak Menguasai Negara dalam Pandangan Mahkamah
                   Konstitusi

                   Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut MK) hadir tidak hanya
             mewakili semangat jaman dan perubahan yang dibawa oleh gerakan
             politik kenegaraan dan sosial pasca-reformasi. Kelahiran MK juga
             mengubah struktur kenegaraan yang ada melalui fungsi negative-legislation
             yang dimilikinya. Melalui fungsi tersebut, MK tidak hanya bermain di
             wilayah yudikatif, melainkan juga berperan sebagai aktor yang berwenang
             melakukan evaluasi bahkan membatalkan undang-undang sebagai produk
             legislatif.
                   Dipandang dari karakter kelembagaannya, MK melakukan uji materi
             dalam kapasitasnya sebagai Court of Law sedangkan Mahkamah Agung
             sebagai Court of Justice. MK difungsikan untuk menjaga konstitusionalitas
             seluruh undang-undang sebagai produk hukum yang mengikat umum
             (general and abstract norms), sedangkan Mahkamah Agung bekerja untuk
             mewujudkan keadilan bagi setiap warga negara Indonesia dan badan-







                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  369
   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405