Page 404 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 404

Meminjam konsep keadilan yang ditawarkan John Rawls, keadilan
             sosial sejatinya terikat pada dua prinsip. Pertama adalah prinsip kebebasan
             yang setara (principle of equal liberty), yang merujuk pada keadaan bahwa
             setiap orang memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar, seluas kebebasan
             yang sama bagi semua orang. Kebebasan dasar ini meliputi kebebasan
             politik; kebebasan berpikir; kebebasan dari penangkapan yang sewenang-
             wenang; dan kebebasan untuk mempertahankan hak milik (personal).
             Sedangkan prinsip kedua adalah prinsip perbedaan (principle of difference),
             yang justru mensyaratkan perlakuan yang berbeda di antara manusia dalam
             bidang sosial dan ekonomi. Perlakuan yang berbeda ini diperlukan dalam
             rangka menjamin hak dan kebebasan orang-orang yang secara kodrati dan
             struktural berada dalam posisi yang tidak setara dengan orang lainnya.
             Tujuan yang ingin dicapai oleh prinsip kebebasan yang kedua ini adalah: 1)
             diharapkan memberikan keuntungan bagi semua orang dan 2) kedudukan
             dan fungsi-fungsi (negara) yang terbuka bagi semua orang. Prinsip
             perbedaan ini berkaitan erat dengan distribusi pendapatan dan kekayaan. 33
                   Pemaknaan HMN seharusnya diletakkan pada dimensi filosofis
             yang tidak hanya memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu
             untuk menguasai tanah, melainkan juga memastikan bahwa individu-
             individu yang berada dalam posisi yang tidak menguntungkan memperoleh
             perlakuan yang berbeda dengan individu yang kedudukan sosial dan
             ekonominya lebih baik. Petani penggarap, orang-orang miskin yang tidak
             memiliki tanah, dan masyarakat hukum adat adalah beberapa contoh
             masyarakat yang perlu memperoleh perhatian dan perlakuan khusus yang
             menjamin hak-hak mereka atas tanah, sehingga dapat memiliki kedudukan
             yang setara dengan perusahaan-perusahaan besar.
                   Soekarno sebenarnya telah sejak awal mencetuskan ide demokrasi
             ekonomi sebagai tujuan yang harus dicapai oleh Indonesia, disamping juga
             adanya demokrasi politik. Dalam pidatonya yang menumental pada sidang
                                        34
             BPUPK Tanggal 1 Juni 1945 , Soekarno menyampaikan “Dan demokrasi
             yang bukan demokrasi Barat, tapi politiek-economische democratie, yaitu

                   33 John Rawls, 2006, Teori Keadilan: Dasar-dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan
             Kesejahteraan Sosial dalam Negara, Penerjemah: Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Pustaka Pelajar,
             Yogyakarta, Hlm. 72-73.
                   34 Pada sidang BPUPK inilah Soekarno mencetuskan idenya mengenai Pancasila. Sebenarnya
             Soekarno tidak hanya mencetuskan satu pilihan ide saja, melainkan menawarkan pula Tri Sila (Sosio-
             nasionalisme; sosio-demokrasi; dan Ketuhanan) dan Eka Sila yang merupakan ekstraksi dari seluruh
             sila dalam Pancasila, yang kemudian disebutnya sebagai prinsip gotong-royong.


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  373
   399   400   401   402   403   404   405   406   407   408   409