Page 409 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 409

41
            mempengaruhi dan serba berpasangan (participerend denken) , beralam
            pikiran integral harmonis dengan alam semesta, dan mendambakan suasana
                                                                   42
            selaras serasi dan seimbang dalam kehidupan bermasyarakat.  Hubungan
            yang demikianlah pada akhirnya melahirkan sebuah hubungan hukum
            antara manusia dengan tanah (rechtsbetrekking).
                 Oleh karena itu, dalam menentukan seberapa luas dan kuat negara
            memiliki kuasa atas tanah yang berada di wilayah kedaulatannya, tidak
            hanya dengan menggunakan ukuran tanah sebagai faktor produksi semata,
            melainkan harus pula mempertimbangkan dan menghormati pertalian
            hukum (rechtsbetrekking) antara manusia dan tanah yang timbul dari adanya
            ikatan kultural dan spiritual diantara mereka.
                 Penjelasan Pasal 33 UUD 1945 (sebelum amandemen) turut pula
            menegaskan konsep penguasaan negara atas tanah dan sumber daya alam,
            yang dinyatakan sebagai berikut:

                 Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan
                 oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau pemilikan anggota-
                 anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan
                 kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha
                 bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai
                 dengan itu ialah koperasi.

                 Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua
                 orang. Sebab itu cabang- cabang produksi yang penting bagi negara dan
                 yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau
                 tidak, tampuk produksi jatuh ketangan orang-seorang yang berkuasa dan
                 rakyat yang banyak ditindasinya.

                 Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh
                 ada ditangan orang-seorang.

                 Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah
                 pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara
                 dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

                 Dalam putusan atas Uji Materi Undang-Undang Penanaman Modal,
            MK memberikan penjelasan mengenai makna dari Pasal 33 Undang-

                 41 Ter Haar, 1979, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, Cetakan ke-IV, Penerjemah: K. Ng.
            Soebakti Poesponoto, Pradnya Paramita, Jakarta, Hal. 71.
                 42 Otje Salman. 2011. Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer. Alumni, Bandung, hlm. 27.


            378      Hubungan Keagrariaan
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414