Page 406 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 406

dimiliki oleh masyarakat dan dijamin oleh konstitusi, misalnya hak akses
             untuk melintas, hak atas lingkungan yang sehat dan lain-lain (vide Putusan
             Mahkamah Nomor 3/PUUVIII/ 2010 bertanggal 16 Juni 2011.

                   Sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya,
             era pasca-reformasi telah merubah semangat kebijakan tenurial ke arah
             desentralisasi, mengikuti sebagaimana semangat tata kelola pemerintahan
             dan bernegara yang menguat kala itu. Desentralisasi mengubah pola relasi
             antara negara dan warganya. Sebelum reformasi, sentralisme pemerintahan
             membawa serta akibat ikutan yang memberikan kekuasaan dominan
             kepada pemerintah pusat dalam penguasaan tanah dan sumber daya alam.
             Sedangkan pasca-reformasi, ketika kekuatan birokrasi dan pemerintahan
             terdistribusi kepada daerah, kekuasaan negara atas sumber agraria, tidak
             dapat dipungkiri, melemah seiring menguatnya pengakuan terhadap hak-
             hak warga negara.
                   Dalam prinsip “negara menguasai”, maka dalam hubungan
             antara negara dan masyarakat, kedudukan masyarakat tidak dapat
             disubordinasikan berada di bawah negara, karena negara justru menerima
             kuasa dari masyarakat untuk mengatur tentang peruntukan, persediaan dan
             penggunaan tanah, serta hubungan hukum dan perbuatan hukum yang
             bersangkutan dengan tanah.
                                       36
                   Pemberian hak kepada negara ini sejatinya merupakan bentuk
             penegasan bahwa tanah air Indonesia ini merupakan milik negara Indonesia,
             bukan milik asing. Semangat lahirnya HMN dan UUPA masih kental
             dengan nuansa politik luar negeri yang menegaskan bahwa pihak asing tidak
             memiliki tanah di wilayah Indonesia. Semangat tersebut menguat bersamaan
             dengan semangat unifikasi hukum melalui UUPA dan menyerap hak-hak
             lain ke dalam sebuah terminologi HMN. Selanjutnya barulah HMN
             menurunkan kembali hak-hak individual dan komunal sebagai bagian
             darinya. Contohnya pada masa Orda Lama banyak dilakukan nasionalisasi
             oleh negara terhadap aset-aset perusahaan asing. Nasionalisasi tersebut
             tidak hanya berdampak pada aset-aset perusahan asing melainkan juga
             hak-hak atas tanah dari penduduk pribumi, diserap menjadi hak nasional.
             Dalam rencana pemerintah orde lama, setelah seluruh hak-hak atas tanah
             diluar milik negara terserap ke dalam HMN, maka barulah dilaksanakan



                   36 Maria Sumardjono, 2009, Kebijakan Pertanahan, antara Regulasi dan Implementasi, Cetakan
             ke-VI, Edisi Revisi, Kompas Gramedia, Jakarta, Hlm.47.


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  375
   401   402   403   404   405   406   407   408   409   410   411