Page 408 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 408

di bawah kekuasaan negara; 4) perusahaan tambang yang besar akan
             dijalankan sebagai usaha negara. 38
                   Pada persidangan BUPK yang kedua Tanggal 16 Juli 1945, empat
             ideologi yang digagas oleh Panitia Perancang Keuangan dan Ekonomi
             memperoleh usulan tambahan dari Soepomo yang menginginkan agar
             kepemilikan tanah dalam masyarakat hendaknya didasarkan pada hukum
             adat istiadat asli. Meskipun kental dengan corak komunal, tidak berarti
             Hukum Adat menolak adanya hak-hak individu atas tanah. Hak-hak
             itu tetap diakui, namun di sisi lain kepemilikan individu tidak serta
             memberikan kekuasaan mutlak pada pemegang hak atas tanah yang
             bersangkutan. Soepomo kemudian mengusulkan bahwa kepemilikan atas
             tanah harus pula diberikan arti sosia, atau dengan kata lain harus sesuai
             dengan sifat kemasyarakatan hak tersebut. 39
                   Berkaitan dengan semangat penguasaan tanah oleh negara, Soepomo
             juga menyumbangkan buah pikirannya:

                   (…) Negara Indonesia menguasai tanah, artinya mempunyai
                   “hoogheidsrechten” terhadap tanah. Alangkah baiknya ditegaskan dalam nota,
                   bahwa hak milik dan hak memakai akan diatur dengan undang-undang.
                   Kecuali itu oleh karena masyarakat Indonesia mempunyai sifat agraris
                   dan berhubung dengan keadilan sosial yang kita tuju, saya mengusulkan
                   supaya dalam nota ini juga ditegaskan bahwa tanah pertanian itu lapangan
                   hidup kaum tani dan harus tetap dalam tangannya kaum tani. Tanah itu
                   bukan saja faktor produksi akan tetapi mempunyai hubungan erat dengan
                   kehidupan desa. 40

                   Pandangan Soepomo di atas menunjukkan keberpihakannya terhadap
             kaum petani dan karakter agraris dari masyarakat Indonesia. Soepomo
             mengingatkan bahwa tanah tidak boleh hanya dipandang sebagai faktor
             produksi, melainkan harus juga dipertimbangkan ikatan-ikatan sosial
             dan kultural yang muncul antara manusia Indonesia dan tanah. Sebagai
             seorang lulusan Universitas Leiden, pemikiran Soepomo tersebut tampak
             memperoleh pengaruh besar dari para Guru Besar Leiden seperti Van
             Vollenhoven, dan terutamanya Ter Haar, yang melihat hubungan antara
             manusia dan tanah merupakan pola hubungan hidup yang teratur, saling


                   38 Yudi Latif, op.cit., Hlm. 543.
                   39 Ibid, Hlm. 545-546.
                   40 Ibid, Hlm. 547.


                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  377
   403   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413