Page 410 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 410

Undang Dasar 1945, yaitu: ”dalam rumusan tersebut terdapat kepentingan
             yang dilindungi oleh konstitusi dan karena itu penting ditegaskan adanya
             penguasaan oleh negara. Kepentingan yang hendak dilindungi oleh konstitusi
             adalah kemakmuran rakyat dalam kaitannya dengan pemanfaatan bumi, air,
             kekayaan yang terkandung di dalamnya”;
                   Dari penafsiran MK terhadap Pasal 33 UUD 1945 tersebut di atas,
             HMN cenderung dimaknai sebagai penegasan kedaulatan negara dan
             bangsa Indonesia atas sumber-sumber agraria yang berada dalam wilayah
             Indonesia. Penegasan kedaulatan ini dapat berfungsi ganda. Pertama adalah
             penegasan kedaulatan negara dalam konteks pasca-kolonial yang bertujuan
             menghilangkan dominasi penguasaan asing atas sumber daya agraria di
             Indonesia. Kedua, HMN juga merupakan penegasan kedaulatan rakyat atas
             negara itu sendiri. Bahwa negara sebenarnya diposisikan sebagai penerima
             kuasa dari seluruh rakyat Indonesia. Jika dianalogikan sebagaimana
             pemberian kuasa dalam Hukum Perdata, maka dalam melakukan perbuatan
             hukum, penerima kuasa tidak bertindak untuk dan atas nama dirinya
             sendiri, melainkan bertindak sebagai representasi Pemberi Kuasa. Negara
             dalam hal kedudukannya sebagai Penerima Kuasa hanya menjalankan
             pengurusan kepentingan dari Rakyat Indonesia sebagai Pemberi Kuasa.
             Dalam pandangan MK, HMN diperlukan bukan untuk menunjukkan
             superioritas negara atas rakyatnya, namun justru menunjukkan kuasa
             yang diberikan rakyat kepada negara untuk mengurus kepentingan dan
             kemakmuran rakyat dalam kaitannya dengan pemanfaatan bumi, air,
             kekayaan yang terkandung di dalamnya.
                   Bahwa sepanjang menyangkut tanah, maka atas dasar adanya
             kepentingan yang dilindungi oleh konstitusi itulah dibuat kebijakan
             nasional di bidang pertanahan yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan
             kemakmuran rakyat, diantaranya berupa pendistribusian kembali pemilikan
             atas tanah dan pembatasan pemilikan luas tanah pertanian, sehingga
             penguasaan atau pemilikan tanah tidak terpusat pada sekelompok orang
             tertentu. Bahwa dengan adanya pembatasan dan pendistribusian demikian
             berarti sumber ekonomi akan tersebar pula secara lebih merata dan pada
             akhirnya akan tercapai tujuan pemerataan kemakmuran rakyat. (vide
             Putusan MK tentang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
             Penanaman Modal)






                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  379
   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414   415