Page 401 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 401

27
            badan hukum di dalam sistem hukum Indonesia.  Kedua lembaga ini
            memiliki wewenang untuk melakukan uji materi atas jenis peraturan
            perundang-undangan tertentu, dimana Mahkamah Agung menguji
            peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap
            undang, sedangkan MK berwenang menguji undang-undang terhadap
            Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu Mahkamah Agung dikatakan
            melakukan pengujian legalitas berdasarkan undang-undang, sedangkan MK
            melakukan pengujian konstitusionalitas berdasarkan UUD 1945.
                 Berdasarkan Pasal 10 UU No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
            Konstitusi, MK memiliki 4 wewenang, antara lain:

            a.   menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara
                 Republik Indonesia Tahun 1945;
            b.   memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya
                 diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
                 Tahun 1945;
            c.   memutus pembubaran partai politik; dan

            d.   memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

                 Berkaitan dengan wewenang MK untuk melakukan uji materi
            undang-undang terhadap UUD 1945 (judicial review), beberapa pemikiran
            hukum tata negara menyamakan antara hak uji (toetsingrecht) dengan
            judicial review, sehingga mengaburkan wewenang pengujian yang dimiliki
            oleh lembaga peradilan dan lembaga legislatif atau eksekutif. Sebenarnya
            terdapat perbedaan antara toetsingrecht dengan judicial review. Hubungan
            keduanya dapat digambarkan sebagai hubungan antara genus dan spesies,
            dimana toetsingrecht sebagai konsep umum dan judicial review sebagai
            konsep khusus. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa terdapat hak uji
            lain disamping judicial review. Menurut Jimly Asshiddiqqie, toetsingrecht
            atau hak untuk menguji dapat pula diberikan kepada lembaga parlemen
            sebagai legislator. Sehingga proses pengujian tersebut lebih tepat disebut
            sebagai legislative review. Demikian pula jika toetsingrecht diberikan kepada
            pemerintah, maka pengujian semacam itu disebut sebagai executive review,
            bukan judicial review ataupun legislative review. 28




                 27 Jimly Ashidiqie, op.cit. 2005, Hlm. 192.
                 28 Jimly Asshiddiqqie, op.cit., 2006, Hlm. 2


            370      Hubungan Keagrariaan
   396   397   398   399   400   401   402   403   404   405   406