Page 399 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 399

Oleh karena itu, HMN seharusnya turut juga menjamin hak-hak
            masyarakat lokal dalam partisipasi, manajemen dan perlindungan dari
            sumber daya alam. Negara, dalam konteks ini, tidak dipersepsikan sebagai
            penguasa dan aktor tunggal dalam menentukan kebijakan pengelolaan
            dan penguasaan sumber daya alam, melainkan wajib pula melibatkan
            masyarakat, terutamanya masyarakat lokal dalam penentuan kebijakan
            sumber daya alam.
                 Namun demikian, HMN yang semangatnya turut bergeser pasca
            reformasi, ternyata tidak sepenuhnya dapat melepaskan diri dari orientasi
            yang kapitalistik dan sentralistik. Persoalan penguasaan tanah dan sumber
            daya alam pasca reformasi tidak kunjung memberikan keadilan bagi rakyat
            kecil dikarenakan polisentrisme yang dianggap konsekuensi dari lahirnya
            desentralisasi dibajak oleh golongan elit lokal yang kemudian menjadi raja
            baru pengganti “Pemerintah Jakarta” yang sentralistik. Ditegaskan oleh
            Leo Agustino bahwa:

                 Mereka yang memiliki kekuatan (local strongmen) dan uang (bos ekonomi)
                 adalah pihak-pihak yang paling diuntungkan pada masa demokrasi saat ini.
                 Tidak hanya itu, analisis tulisan ini juga mendapati bahwa aktor ‘politik
                 lama’ yang dipupuk di bawah sistem patronase rezim Orde Baru sebagian
                 besar berhasil menata ulang diri dalam ‘politik baru’ sehingga transformasi
                 politik yang diharapkan bergerak ke arah yang lebih baik pada era Reformasi
                 hanya menjadi ilusi saja. 26

                 Keberadaan elit-elit lokal dan free riders yang memanfaatkan
            desentralisasi sebagai momentum untuk mengeruk kekayaan sumber daya
            alam Indonesia, secara tidak langsung menunjukkan bahwa pemaknaan
            HMN pasca-reformasi masih dipahami dalam konteksnya sebagai hak
            privat. Sebagai hak yang melekat pada negara untuk memiliki tanah
            dan sumber daya alam layaknya hak-hak perseorangan. Orientasi HMN
            masih dalam rangka upaya pembangunan infrastruktur dan ekonomi oleh
            negara. Beberapa legislasi di bidang sumber daya alam yang lahir pasca
            reformasi menunjukkan kecenderungan itu, antara lain: UU Nomor
            41 tahun 1999 tentang Kehutanan; UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang
            Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum; UU
            Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan; UU Nomor 20 Tahun



                 26 Leo Agustino dan Mohammad Agus Yusoff, op.cit., Hlm. 27-28.


            368      Hubungan Keagrariaan
   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404