Page 391 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 391

Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-
                 undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu
                 dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.

                 Disamping itu tegas pula dinyatakan pengakuan UUPA terhadap
            hak-hak ulayat dan hak-hak lain yang didasarkan pada hukum adat.
            Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 3 UUPA:

                 Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan
                 hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum
                 adat, sepanjang menurut kenyataannya. masih ada, harus sedemikian rupa
                 sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan
                 atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-
                 undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.

                 Pada sisi yang berbeda, UUPA juga memberikan alas hak bagi negara
            sebagai penguasa inti dari seluruh tanah yang berada di wilayah negara
            Indonesia. Melalui Pasal 4 Ayat (1), UUPA memberikan kedudukan HMN
            menjadi hak inti yang membawahi berbagai hak turunan seperti yang
            dapat dimiliki orang, baik individu maupun bersama-sama, dan juga oleh
            badan hukum. Konsep politico-legal yang baru ini memberikan penekanan
            kebijakan agraria Indonesia seharusnya diarahkan pada kesejahteraan kaum
            miskin dan kaum petani penggarap, bukan dengan keberpihakan terhadap
            keuntungan kapital semata.
                 Semangat kebijakan agraria yang diusung melalui UUPA berupaya
            keluar dari jerat stuktur penguasaan tanah dan sumber daya alam yang
            berpihak pada pasar dan pemodal. Agrarisch Wet Tahun 1870 yang
            merupakan undang-undang agraria yang berlaku di Indonesia pada masa
            Pemerintah Kolonial Belanda memberikan keuntungan penguasaan bagi
            perusahaan-perusahaan perkebunan melalui Hak Erfpacht (Hak Guna
            Usaha versi pemerintah kolonial). Hak Erfpacht ini memberikan Belanda
            dan kelas kapitalis Eropa surplus-surplus kolonial dari Hindia Belanda
                                                          16
            selama lebih dari tujuh puluh tahun (1870-1942).  Struktur penguasaan
            tanah dan sumber daya alam, dengan restu dari Agrarisch Wet, didominasi
            oleh perusahaan-perusahaan perkebunan tersebut melalui hak pengelolaan
            tanah dengan wilayah penguasaan yang sangat besar.



                 16 Noer Fauzi Rachman, 2012, Landreform dari Masa ke Masa: Perjalanan Kebijakan
            Pertanahan 1945-2009, STPN Press, Yogyakarta, Hlm. 15.


            360      Hubungan Keagrariaan
   386   387   388   389   390   391   392   393   394   395   396