Page 392 - Asas-asas Keagrariaan: Merunut Kembali Riwayat Kelembagaan Agraria, Dasar Keilmuan Agraria dan Asas Hubungan Keagrariaan di Indonesia
P. 392

UUPA mencabut setidaknya 8 (delapan) peraturan perundang-
             undangan kolonial di bidang tanah dan sumber daya alam, antara lain:

             1.    “Agrarische Wet” (Staatsblad 1870 No.55), sebagai yang termuat
                   dalam pasal 51 “Wet op de Staatsinrichting van Nederlands Indie”
                   (Staatsblad 1925 No.447) dan ketentuan dalam ayat-ayat lainnya dari
                   pasal itu;
             2.    “Domienverklaring” tersebut dalam pasal 1 “Agrarisch Besluit “
                   (Staatsblad 1870 No.118);
             3.    “Algemene Domienverklaring” tersebut dalam Staatsblad 1875
                   No.119A;
             4.    “Domienverklaring untuk Sumatera” tersebut dalam pasal 1 dari
                   Staatsblad 1874 No.94f;
             5.    “Domeinverklaring untuk keresidenan Menado” tersebut dalam pasal
                   1 dari Staatsblad 1877 No.55;
             6.    “Domienverklaring untuk residentie Zuider en Oosterafdeling van
                   Borneo” tersebut dalam pasal 1 dari Staatsblad 1888 No.58.
             7.    Koninklijk Besluit tanggal 16 April 1872 No.29 (Staatsblad 1872
                   No.117) dan peraturan pelaksanaannya;
             8.    Buku ke-II Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia
                   sepanjang yang mengenai bumi, air serta kekayaan alam yang
                   terkandung didalamnya, kecuali ketentuan-ketentuan mengenai
                   hypotheek yang masih berlaku pada mulai berlakunya UUPA.


                   Pembentuk UUPA tampak jelas berupaya untuk mengubah konsep
             HMN yang semula kental dengan pengaruh Domein Verklaring, untuk
             menjadi konsep menguasai negara yang sesuai dengan karakter Bangsa
             Indonesia. Dari delapan peraturan perundang-undangan yang dicabut di
             atas, 5 (lima) diantaranya merupakan peraturan pelaksana domein verklaring
             yang diterapkan di beberapa daerah di Indonesia.
                   Semangat mengganti Domein Verklairng menjadi HMN  sudah
             tampak jauh sebelum UUPA dibentuk. Mohammad Hatta dalam Sidang
             B.P.K.N.P di Yogyakarta, Tahun 1948, menyampaikan Keterangan
             Pemerintah yang berjudul “Mendajung antara Dua Karang ”menyatakan:

                   “Milik tanah besar harus dihapuskan. Harus dipeladjari dengan teliti
                   berapa besarnja maximum milik tanah jang dibolehkan. Sebaliknja



                       Pemaknaan Hak Menguasai Negara Oleh Mahkamah Konstitusi  361
   387   388   389   390   391   392   393   394   395   396   397