Page 238 - Konstitusionalisme Agraria
P. 238

menyangkut orang-orang tertentu. Di satu sisi hal ini memberikan
            pencerahan bila suatu persoalan konstitusional yang dihadapi oleh
            banyak orang bisa ditangani oleh Mahkamah Konstitusi ketika satu
            orang tampil ke  Mahkamah Konstitusi. Dengan kata lain, satu
            orang bisa menjadi pintu masuk bagi persoalan yang dihadapi oleh
            banyak orang. Namun di sisi lain, acapkali Mahkamah Konstitusi
            tidak menyelesaikan perkara karena tidak mau masuk lebih jauh
            pada persoalan yang lebih konkret dan spesifik yang dialami oleh
            pihak pemohon. Terkait hal ini, para hakim konstitusi dalam
            banyak kesempatan persidangan menyampaikan bahwa Mahkamah
            Konstitusi mengadili norma hukum (baca: undang-undang),
            bukan mengadili pemberlakuan undang-undang. Sehingga, kalau
            pun Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan pemohon,
            belum tentu memberikan manfaat bagi individu pemohon sebab
            berlaku pula bahwa putusan Mahkamah Konstitusi berlaku ke
            depan (prospective), tidak berlaku ke belakang terhadap perkara
            yang terjadi sebelum suatu ketentuan undang-undang dibatalkan.
            Hal ini terjadi pada kasus Eggi Sudjana yang didakwa melakukan
            penghinaan presiden berdasarkan Pasal 134 jo Pasal 136 bis  KUHP.
                                                                         43
            Meskipun Eggi kemudian tampil sebagai pemohon menguji Pasal 134,
            Pasal 136 bis, dan Pasal 137  KUHP dan dikabulkan oleh Mahkamah
            Konstitusi (Perkara No. 13-22/PUU-IV/2006), proses hukum di
            kepolisian, kejaksaan dan pengadilan menyangkut perkara itu tetap
            saja berjalan dan mengabaikan putusan Mahkamah Konstitusi.
                 Lebih lanjut, persoalan lain dari berperkara di Mahkamah
            Konstitusi adalah persoalan eksekusi putusan. Sampai hari ini memang
            tidak ada lembaga khusus yang bertugas melakukan eksekusi putusan
            Mahkamah Konstitusi. Hal ini karena pandangan bahwa setiap
            putusan yang dibacakan oleh Mahkamah Konstitusi langsung memiliki


                 43 Pasal 134 KUHP berbunyi: “Penghinaan  dengan  sengaja  terhadap Presiden  atau
            Wakil Presiden diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun, atau pidana denda
            paling banyak empat ribu lima ratus ribu rupiah.” Sedangkan Pasal 136 bis KUHP Berbunyi:
            “Pengertian penghinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 134 mencakup juga perumusan
            perbuatan dalam Pasal 135, jika itu dilakukan diluar kehadiran yang dihina, baik dengan
            tingkah laku di muka umum, maupun tidak dimuka umum baik lidsan atau tulisan, namun
            dihadapan  lebih dari empat orang, atau di  hadapan orang  ketiga,  bertentangan dengan
            kehendaknya dan oleh karena itu merasa tersinggung.”

                                      Konstitusi Agraria dan Mahkamah Konstitusi     207
   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243