Page 459 - Konstitusionalisme Agraria
P. 459

rights).  Pembentukan Pengadilan Agraria telah sejalan dengan
                   83
            semangat yang menghargai hak asasi manusia dan negara hukum
            yang telah disepakati sebagai sendi dari pembangunan Republik
            Indonesia. Melihat konteks permasalahan sengketa dan konflik
            agraria yang semakin mengkhawatirkan, maka pembentukan
            Pengadilan Agraria haruslah menjadi prioritas pemerintahan yang
            berkuasa.


            Memperjuangkan Konstitusionalisme Agraria

            Cara untuk mewujudkan konstitusionalisme agraria adalah
            mendayagunakan berbagai kesempatan yang tersedia untuk
            melakukan penataan ulang hubungan-hubungan penguasaan tanah
            dan sumber daya alam lainnya untuk menciptakan situasi yang lebih
            adil. Meskipun konstitusi Indonesia secara tekstual belum mengatur
            secara komprehensif berbagai ketentuan mengenai reforma agraria,
            sejumlah ketentuan yang saat ini tersedia dapat dipergunakan
            sebagai dasar untuk menuntut dilaksanakan penataan hubungan
            dalam penguasaan tanah dan sumber daya alam lainnya.
                 Mewujudkan konstitusionalisme agraria  tidak harus
            menunggu teks konstitusi yang “matang” melainkan dapat terus
            diupayakan dengan keterbatasan-keterbatasan. Prinsip utama dalam
            konstitusionalisme agraria bahwa warga negara adalah subjek utama
            sebagai pemilik tanah dan sumber daya alam sekaligus sebagai
            pihak yang harus memperoleh manfaat dari pemanfaatan tanah
            dan sumber daya alam. Ketika warga negara menjadi pemegang
            hak, maka negara lah menjadi pihak yang memiliki tanggungjawab
            untuk menghargai, melakukan perlindungan dan pemenuhan hak-
            hak warga negara atas tanah dan sumber daya alam lainnya. Prinsip
            ini sejalan dengan tujuan kemerdekaan dan pembentukan Negara



                 83 Istilah “justiciability” merujuk kepada kemampuan untuk mengklaim pemulihan
            dihadapan lembaga yang independen dan imparsial ketika pelanggaran suatu hak terjadi atau
            patut diduga telah terjadi. Bacaan lebih detail mengenai konsep “justiciability”, khususnya
            berkaitan dengan hak ekonomi, sosial dan budaya, baca Christian Curtosis, 2008. Courts and
            the Legal Enforcement of Economic, Social and Cultural Rights: Comparative experiences of
            justiciability, Switzerland: International Commission of Jurist.

               428     Konstitusionalisme Agraria
   454   455   456   457   458   459   460   461   462   463   464