Page 456 - Konstitusionalisme Agraria
P. 456

bidang ini merupakan bidang yang sangat luas, namun penegasan
            lingkup yang luas tersebut bisa membantu untuk menyelesaikan
            permasalahan agraria yang terkadang terjadi lintas sektor. Oleh
            karena itu, Pengadilan Agraria tidak saja dihadirkan untuk mengadili
            masalah tanah pertanian saja, tetapi juga yang berkaitan dengan
            kehutanan, perairan, dan pertambangan.
                 Pengadilan Agraria dirancang sebagai pengadilan khusus
            dan oleh karena itu memiliki sejumlah kekhususan dalam hukum
            acaranya. Beberapa kekhususan dalam Pengadilan Agraria antara
            lain: Pertama, pembebasan biaya perkara. Salah satu kekhususan
            dalam beracara di pengadilan agraria dilihat dari sisi biaya perkara.
            Selama ini masyarakat enggan datang ke pengadilan selain karena
            mekanisme peradilan itu asing bagi mereka, juga karena besarnya
            biaya yang harus mereka keluarkan untuk berperkara. Untuk
            mengatasi itu, maka pengadilan agraria harus dibentuk untuk
            bisa memberikan akses seluas-luasnya kepada masyarakat dengan
            meminimalisir hambatan-hambatan, termasuk soal biaya perkara.
            Salah satu mekanisme yang diatur kemudian adalah memberikan
            pembebasan biaya perkara, khusus untuk perkara yang nilai
            gugatannya dibawah dua ratus lima puluh juta rupiah.

                 Kedua, mencari kebenaran materil. Kekhususan lain adalah
            mengenai tujuan dari proses peradilan agraria.  Hukum acara dalam
            Pengadilan Agraria dibentuk untuk mencari keadilan materil. Hal
            ini berbeda dengan pengadilan Perdata yang dilakukan untuk
            menemukan kebenaran formil. Dengan kata lain yang dipentingkan
            dalam perperkara di pengadilan agraria bukanlah bukti-bukti
            kepemilikan secara formal, bisanya dalam bentuk sertipikat,
            melainkan kebenaran sesungguhnya mengenai siapa yang berhak
            atas tanah yang disengketakan.
                 Ketiga,  pengutamaan mediasi dan konsiliasi. Upaya
            penyelesaian sengketa dan konflik agraria tidak semata-mata
            mengandalkan proses untuk menemukan siapa benar dan siapa
            salah melalui litigasi, melainkan untuk mencari penyelesaian yang
            terbaik di antara para pihak yang bertikai. Oleh karena itu pada
            tahap awal proses penyelesaian perkara akan ditawarkan dilakukan


                                        Konstitusionalisme dan Reforma Agraria     425
   451   452   453   454   455   456   457   458   459   460   461