Page 101 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 101

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

            persamaan dalam hal pentingnya logika dan sistem Hukum Agra-
            ria yang khas dalam memandang persoalan Hukum Agraria.
                Sebagai Kepala Pusat Studi Hukum Agraria Fakultas Hukum
            Usakti, Prof. Boedi Harsono terus berproses “memimpin” dunia-
            pikir Hukum Agraria Indonesia dengan memberikan berbagai
            pencerahan sampai memasuki Abad 21. Ketika muncul  tafsir dan
                                 40
            pandangan yang berbeda  terhadap makna dari Pasal 15 ayat (2)

                40  Perbedaan pandangan terhadap Pasal 15 ayat (2)  huruf f UU No. 30
            Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, mungkin juga karena di dalam proses
            penyusunan UU tersebut di DPR RI memang ada fraksi-fraksi yang secara terang-
            terangan mengusulkan agar notaris juga diperkenankan membuat akta tanah yang
            dibuat oleh PPAT. Di dalam pendapat akhir terhadap RUU Inisiatif anggota
            DPR RI tentang Jabatan Notaris ini tercatat bahwa pandangan Fraksi Partai
            Persatuan Pembangunan dan Fraksi Reformasi bersikap agar notaris mengambil
            alih kewenangan PPAT menjadi kewenangan notaris. Lebih jelas Fraksi Persatuan
            Pembangunan (disampaikan oleh Drs. H. Lukman  Hakim Saifuddin) mendesak
            Pemerintah agar segera  meninjau kembali Peraturan Pemerintah yang mengatur
            PPAT dengan tidak mewajibkan notaris (membuat akta PPAT: tafsir penulis),
            sehingga notaris masih memerlukan pengangkatan khusus dari instansi lain untuk
            jabatan PPAT. Selanjutnya, Fraksi Reformasi (disampaikan oleh Suminto
            Martono, S.H.), antara lain, menyatakan pembentukan Badan Sertifikasi Notaris
            merupakan momentum untuk menyatukan pembinaan Notaris dan PPAT dalam
            suatu lembaga yang kredibel. Selain itu, dapat dijadikan kerangka acuan untuk
            mengatasi kendala birokrasi dari Departemen Kehakiman dan HAM serta Badan
            Pertanahan Nasional guna mengintegrasikan dua jabatan (Notaris dan PPAT)
            dalam satu jabatan yaitu Notaris. Perhatikan Hadi Setia Tunggal, Peraturan
            Pelaksanaan Undang-undang Jabatan Notaris, Penerbit Harvarindo, Jakarta, 2007,
            hlm. 9 dan 24. Bagi penulis menarik untuk meneliti lebih jauh, mengapa ada usulan
            fraksi di DPR RI yang sesungguhnya ahistoris tersebut. Apakah usulan ahistoris
            itu sekedar perbedaan pandangan yang dikarenakan perbedaan sikap ataukah ada hal
            lain yang mungkin lebih bersifat “transaksional”? Sebagaimana diketahui, dalam
            sejarah pendaftaran tanah di Indonesia, notaris di Hindia Belanda berbeda dengan
            notaris di Belanda. Notaris di Hindia Belanda tidak berwenang membuat akta
            pemindahan hak atas tanah-tanah hak barat dan akta pemberian Hypotheek. Di

            88
   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106