Page 103 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 103

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

            BPN, dan asosiasi profesi (IPPAT dan ASPPAT-Indonesia) menyim-
            pulkan: pertama, Pasal 15 UU No. 30 Tahun 2004 tidak mengadakan
            perubahan pada tugas kewenangan PPAT, sedang kewenangan
            notaris dalam pembuatan akta-akta tanah terbatas pada perbuatan-
            perbuatan hukum mengenai tanah yang bukan perbuatan-perbu-
            atan hukum yang dimaksudkan dalam UU No. 16 Tahun 1985,
            UU No. 4 Tahun 1996, dan PP No. 24 Tahun 1997); kedua, Pasal 17
            tidak meniadakan, bahkan sebaliknya mengukuhkan eksistensi
            jabatan PPAT. Notaris tetap boleh merangkap PPAT, dengan wila-
            yah kerja Kabupaten/Kota di lingkup provinsi wilayah kerjanya,
            dan berkantor di tempat yang sama. Notaris tidak otomatis menjadi
            PPAT, melainkan melalui prosedur khusus bagi pengangkatan
            PPAT oleh Kepala BPN.
                Pencerahan dalam kesimpulan diskusi di atas menjadi sangat
            otoritatif oleh karena kiranya dapat dikatakan bahwa Pusat Studi
            Hukum Agraria Fakultas Hukum Usakti memang identik pula
            dengan Prof. Boedi Harsono. Apa yang dikemukakan dalam dis-
            kusi di atas, selaras dengan pandangan-pandangan Prof. Boedi
            Harsono sebelumnya, yang menyatakan bahwa PPAT adalah
            pembantu Kepala Kantor Pertanahan. Bagi Prof. Boedi Harsono,
            pembuatan Akta Tanah hanya merupakan kewenangan Pejabat
            Pembuat Akta Tanah (PPAT) yang pada hakikatnya sebagai
            pembantu Kepala Kantor Pertanahan, dalam pendaftaran  tanah,
            dalam hal ini pendaftaran peralihan hak atas tanah (Pasal 6 ayat
            (2) PP 24 Tahun 1997). Prof. Boedi Harsono menyatakan, sesung-


            ayat (1) tersebut. Oleh karena itu, yang merupakan kewenangan notaris adalah
            terbatas pada pembuatan akta-akta yang membuktikan perbuatan-perbuatan hukum
            mengenai tanah, yang bukan perbuatan-perbuatan hukum yang dimaksudkan dalam
            UU  No. 16 Tahun 1985, UU No. 4 Tahun 1996 dan PP No. 24 Tahun 1997.

            90
   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108