Page 107 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 107

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

                Pada pemerintahan yang makin demokratis, akomodasi ter-
            hadap aspirasi masyarakat, termasuk masyarakat profesi memang
            cenderung semakin tinggi, namun demikian dalam bidang perta-
            nahan seyogianyalah pengakomodasian itu tetap dapat menun-
            jukkan peran negara yang jelas. Apalagi dalam tindakan jual beli
            tanah misalnya, yang dalam sistem Hukum Tanah kita sekarang
            ini masih menggunakan logika adat, yakni sebagai tindakan
            pemindahan hak dari  penjual kepada pembeli. Dalam pada itu,
            maka akta jula beli tanah yang dibuat PPAT itulah secara hukum
            yang menjadi bukti terjadinya perbuatan hukum pemindahan hak.

            Pendampingan Penegakan Hukum Agraria
                Pendampingan penegakan Hukum Agraria yang sangat berse-
            jarah dalam perkembangan Hukum Agraria memasuki abad XXI
            dilakukan Prof. Boedi Harsono melalui pandangan hukumnya
            terhadap pentingnya untuk mempertahankan kewenangan perta-
            nahan agar tetap bersifat vertikal. Tegasnya, di tengah-tengah arus
            globalisasi yang terus bergulir, kewenangan pertanahan
            seyogianyalah tetap menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Oleh


            membedakan gejala-gejala perjanjian baku yang terdapat di masyarakat ke dalam 4
            (empat) jenis, yaitu: (a) perjanjian baku sepihak yaitu perjanjian yang isinya
            ditentukan oleh pihak yang kuat kedudukannya di dalam perjanjian itu (dalam
            kepustakaan Barat disebut perjanjian adhesi; (b) perjanjian baku timbal balik yakni
            perjanjian baku yang isinya ditentukan oleh kedua belah pihak, misalnya perjanjian
            baku yang pihak-pihaknya terdiri atas pihak majikan (kreditur) dan pihak lainnya
            buruh (debitur); (c) perjanjian baku yang ditetapkan Pemerintah yaitu perjanjian
            baku yang isinya ditentukan Pemerintah terhadap perbuatan-perbuatan hukum
            tertentu, misalnya perjanjian-perjanjian yang mempunyai objek hak-hak atas tanah;
            (d) perjanjian baku yang ditentukan di lingkungan notaris atau advokat yaitu
            perjanjian-perjanjian yang konsepnya sejak semula sudah disediakan untuk
            memenuhi permintaan bantuan dari anggota masyarakat.

            94
   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112