Page 112 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 112

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

                   Dalam alam pikir rakyat Indonesia pada umumnya, hakikat
               persoalan pertanahan terkait erat dengan persoalan kewilayahan,
               sehingga persoalan pertanahan erat pula menyangkut eksistensi
               wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Dalam alam
               pikir yang demikian, tidakkah terlalu berisiko jika menyerahkan
               tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara utuh kepada
               Pemerintah Daerah? Kekhawatiran ini semakin tinggi ketika dalam
               praktik pemerintahan daerah saat ini, ternyata masih banyak


               Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah
               dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, pelaksanaan otonomi daerah di
               bidang pertanahan, berlaku Peraturan, Keputusan, Instruksi, dan Surat Edaran
               Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang telah ada”. Ketiga,
               lahirnya Tap MPR IX/2001 yang mengoreksi UU No. 22 Tahun 1999. Tap
               MPR tersebut mengamanatkan penguatan kelembagaan pertanahan dan  harmonisasi
               aturan mengenai pertanahan/keagrariaan untuk mendukung reforma agraria. Keempat,
               lahirnya Keppres No. 34 Tahun 2003 yang memberikan 9 urusan pertanahan
               untuk dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. Pemberian sebagian itu dimaksudkan
               sebagai  semacam “testing the water” untuk melihat kemana arah akal-sehatnya
               masyarakat. Tampaknya, Keppres ini menyakini proposisi hukum:  “The develop-
               ment of law gradually works out what is socially reasonable”. Dalam pada itu, ada
               penilaian Mahkamah Konstitusi dalam Putusan No. 009/PUU-I/2003 yang
               menyatakan: “ …….. Mahkamah Konstitusi menilai bahwa materi permohonan Para
               Pemohon layak mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari pembuat undang-
               undang dalam penyempurnaan UU No. 22 Tahun 1999;” . Penilaian Mahkamah
               Konstitusi tersebut selaras dengan kenyataan praktik pemerintahan yang menanggapi
               implementasi Keppres No. 34 Tahun 2003 secara variatif dan terkesan belum siap.
               Kelima, lahirnya UU No. 32 Tahun 2004 yang mengubah karakter UU No. 22
               Tahun 1999 yang “kebablasan”. Keenam,  ditetapkannya Perpres No. 10 Thn
               2006, yang secara tegas menyatakan: “BPN mempunyai tugas melaksanakan tugas
               pemerintahan secara nasional, regional, dan sektoral.”  Ketujuh, lahirnya PP No. 38
               Thn 2007 sebagai peneguhan bahwa bidang pertanahan tetap vertikal, yang
               dilimpahkan kepada daerah: 9 urusan sebagaimana dimaksud dalam Keppres No.
               34 Tahun 2003.

                                                                   99
   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117