Page 109 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 109

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

            No. 22 Tahun 1999 tidak menimbulkan pengaruh langsung kepada
            pemohon (ASPATI) karena tidak terjadi perubahan sama sekali
            dalam Hukum Pertanahan, khususnya yang berkenaan dengan
            kepentingan pemohon sebagai PPAT. Oleh karena para pemohon
            tidak dirugikan kepentingannya, maka kekhawatiran para
            pemohon terlalu dini atau premature, apalagi UU No. 22 Tahun
            1999 akan dilakukan perubahan, termasuk Pasal 11 ayat (2).
            Dengan pertimbangan di atas, permohonan uji materi tersebut tidak
            dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard), bukan ditolak.  Namun
            demikian, Mahkamah Konstitusi menilai bahwa materi permo-
            honan para pemohon layak mendapat perhatian yang serius dari
            pembuat undang-undang dalam penyempurnaan UU No. 22
            Tahun 1999.
                UU No. 22 Tahun 1999 telah diganti dengan UU No. 32 Tahun
            2004 tentang Pemerintahan Daerah, dengan lingkup kewenangan
            Daerah Otonom yang berbeda dengan rumusan Pasal 11 UU No.
            22 Tahun 1999.  Prof. Boedi Harsono menyatakan: “Terbukti, bahwa
            apa yang diharapkan oleh Mahkamah Konstitusi tersebut terlak-
            sana, dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun
            2004, mengganti UU 22/1999 dan mengubah ketentuan Pasal 11
                   47
            ayat (2).”  Perjuangan Prof. Boedi Harsono menjadi kuasa ASPPATI
            menegakkan ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan Pasal 2
            UUPA secara tidak langsung sesungguhnya membuahkan hasil,
            karena berhasil mengundang  Mahkamah Konstitusi  memberikan
            penilaian terhadap Pasal 11 ayat (2) UU No. 22 Tahun 1999 yang
            sangat “federal” dan liberal tersebut. 48


                47  Boedi Harsono, hlm. XLII.
                48  Beberapa pengamat mengatakan bahwa UU No. 22 Tahun 1999 sangat
            liberal, bahkan lebih liberal daripada negara asal liberalisme itu sendiri. Lebih

            96
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114