Page 108 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 108

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               karena itu, Prof. Boedi Harsono sebagai kuasa dari Asosiasi PPAT
               Indonesia (ASPPATI) mengajukan permohonan kepada Mahka-
               mah Konstitusi untuk menguji-materi ketentuan Pasal 11 ayat (2)
               UU No. 22 Tahun 1999 yang telah mengotonomikan bidang
                                                46
               pertanahan kepada Pemerintah Daerah.  ASPPATI berpandangan
               bahwa pelaksanaan Pasal 11 ayat (2) UU No. 22 Tahun 1999 di
               atas akan mengakibatkan daerah mempunyai kewenangan yang
               luas di bidang pertanahan itu yang dikhawatirkan akan mengha-
               puskan Hukum Tanah yang bersifat nasional. Ketentuan Pasal 11
               ayat (2) UU tersebut dipandang bertentangan dengan Pasal 33
               ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, kekayaan
               alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara.
                   Di dalam putusan Mahkamah Konstitusi No. 009/PUU-I/
               2003 dinyatakan bahwa oleh karena dalam praktiknya bidang
               pertanahan belum diotonomikan,  sehingga Pasal 11 ayat (2) UU



                   46  Pasal 11 ayat (2) UU No. 22 Tahun 1999 menyatakan: “Bidang pemeritnahan
               yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, meliputi pekerjaan
               umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industry
               dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan
               tenaga kerja.” Selanjuntya, Penjelasannya menyatakan: “Dengan diberlakukannya
               undang-undang ini, pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah
               Kabupaten dan Daerah Kota. Oleh karena itu penyerahan kewenangan tidak perlu
               dilakukan secara aktif, tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. Namun,
               Pasal 8 ayat (1) menentukan: “kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada
               daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan
               pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumberdaya manusia, sesuai kewenangan
               yang diserahkan tersebut.” Namun kenyataannya, tugas pemerintahan di bidang
               pertanahan pertanahan belum pernah dilakukan penyerahan dan pengalihan yang
               dimaksudkan dalam Pasal 8 ayat (1) di atas. Yang dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) di
               atas di kalangan administrasi negara dikenal sebagai P3D (prasana, pembiayaan,
               personalia, dan dokumen).

                                                                   95
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113