Page 106 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 106

Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....

               15 ayat (2) UU No. 30 Tahun 2004.
                   Keberadaan PPAT sebagai ‘pembantu Kepala Kantor
               Pertanahan’ atau ’bagian dari organ BPN RI’ inilah yang membe-
               rikan legitimasi pencetakan blangko akta PPAT selama ini
               dibebankan pada anggaran Negara (APBN). Sebaliknya, dengan
               pencetakan blangko akta PPAT atas biaya Negara, semakin diku-
               kuhkan pula kedudukan PPAT sebagai pembantu Kepala Kantor
               Pertanahan atau bagian dari organ BPN RI. Namun, dalam per-
               kembangan terakhir ada ikhtiar untuk tidak lagi menggunakan
               anggaran negara bagi pencetakan blangko akta PPAT, melainkan
               cukup dibuat oleh PPAT itu sendiri. Hal ini diakibatkan oleh
               banyaknya keluhan PPAT (yang dirangkap notaris) terhadap
               ketidaklancaran pendistribusian akta PPAT tersebut dalam
               praktiknya.
                   Seyogianya, solusi yang ditempuh tetap mengingat kedu-
               dukan PPAT sebagai pembantu Kepala Kantor Pertanahan atau
               bagian dari organ BPN RI. Kalaupun, blangko akta diserahkan
               pembuatannya kepada PPAT itu sendiri, kiranya otoritas per-
               tanahan dalam hal ini BPN Pusat tetap memberikan aturan hukum
               (atau setidaknya aturan kebijakan) sebagai koridor terhadap bentuk
               blangko akta PPAT, sehingga dalam perspektif hukum akta tanah
               yang dibuat oleh PPAT untuk membuktikan dilakukannya ke-8
               perbuatan hukum yang ditentukan dalam Pasal 2 PP No. 37 Tahun
               1998 di atas pada hakikatnya merupakan akta yang membuktikan
               adanya perbuatan hukum dalam bentuk perjanjian baku yang
               ditetapkan oleh Pemerintah. 45


                   45  Perhatikan Mariam Darus Badrulzaman, Perjanjian Baku (Standard),
               Perkembangannya di Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar  di Universitas
               Sumatera Utara, Medan, pada tanggal 30 Agustus 1980, 1980, hlm. 8-9, yang

                                                                   93
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111