Page 105 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 105

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda

            kaitan dengan akta pertanahan’, maka pandangan Prof. Boedi
            Harsono di atas dapat dipertanggungjawabkan. Bukankah sudah
            merupakan kelaziman dalam bahasa perundang-undangan, jika
            dikatakan, “akta yang berkaitan dengan pertanahan”,  justru arti-
            nya bukan akta tanah itu sendiri. Sama halnya dengan “peraturan
            perundang-undangan yang berkaitan dengan pertanahan”, berarti
            yang dimaksudkan bukan peraturan pertanahan, melainkan
            peraturan lainnya yang berkaitan dengan pertanahan, seperti pera-
            turan kehutanan, tata ruang, pertambangan, dan lain sebagainya.
            Dalam pada itu, wewenang notaris yang dimaksud dalam Pasal
            15 ayat (2) huruf f UU Jabatan Notaris, bukanlah meliputi pem-
            buatan akta tanah, yang menjadi kewenangan PPAT, seperti telah
            didasarkan pada UU No. 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun
            dan UU No. 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan, dan dija-
            barkan dalam PP No. 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Pejabat
                               44
            Pembuat Akta Tanah.   Berdasarkan  Pasal 2 PP No. 37 Tahun
            1998, akta tanah yang menjadi kewenangan PPAT adalah akta
            akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu,
            yakni:  (1) Jual beli; (2)  tukar menukar; (3) Hibah; (4) Pemasukan ke
            dalam perusahaan (inbreng); (5) Pembagian hak bersama; (6)
            Pemberian Hak Guna Bangunan/Hak Pakai atas tanah Hak Milik;
            (7) Pemberian Hak Tanggungan; dan (8) Pemberian kuasa membe-
            bankan Hak Tanggungan. Pembuatan ke-8 akta tanah itu adalah
            kewenangan PPAT sebagai bagian dari organ BPN RI yang turut
            melakukan tugas pendaftaran tanah, dalam hal ini pendaftaran
            peralihan hak atas tanah. Tegasnya, kewenangan pembuatan ke-8
            akta tersebut-lah yang disebut sebagai akta tanah, bukan ‘akta yang
            berkaitan dengan pertanahan’ sebagaimana disebut dalam Pasal

                44  Ibid, dan perhatikan juga Renvoi No. 1.49.V. hlm. 18.

            92
   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110