Page 116 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 116
Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria ....
pertama sekali mendudukkan Hukum Agraria sebagai suatu sistem
hukum yang mandiri. Dengan sistem yang dibangun oleh Prof.
Boedi Harsono, sekali lagi, para sarjana hukum dan mahasiswa
hukum selanjutnya lebih mudah menangkap logika Hukum Agra-
ria itu sendiri. Penulis bahkan berani mengatakan bahwa keman-
dirian Hukum Agraria yang sudah dibangun oleh Boedi Harsono
itulah, antara lain, yang memungkinkan Prof. A.P. Parlindungan
dengan baik dan setia mengajukan berbagai pandangan kritisnya
untuk menyempurnakan Hukum Agraria sebagai mata kuliah dan
objek studi.
Kesetiaan Prof. A.P. Parlindungan memberikan kritik terhadap
perkembangan Hukum Agraria membuat debat dan kajian Hukum
Agraria pada awal tahun 1980-an sampai 1998 menjadi sangat
menarik. Pemikiran Prof. Boedi Harsono yang posisinya selalu
dalam konteks menyusun dan melakukan pembangunan Hukum
Agraria Nasional mendapat sparring partner yang handal lewat
kritik-kritik Hukum Agraria yang disampaikan oleh Prof. A.P.
Parlindungan. Kalau pandangan-pandangan Prof. Boedi Harsono
tampaknya lebih melihat aspek kepastian dan kemanfaatan Hu-
kum Agraria, perspektif Prof. A.P. Parlindungan lebih sering
berorientasi pada aspek keadilan dari Hukum Agraria.
Pandangan Prof. Boedi Harsono yang lebih pekat bernuansa
nilai dasar kepastian hukum dan kemanfaatan hukum itu mungkin
dipengaruhi oleh kenyataan bahwa beliau masih merasakan
dirinya sebagai ‘orang agraria’ (baca: jajaran birokrasi agraria/
pertanahan). Beliau sesekali di depan publik mengatakan bahwa
kenyataan hidupnya berada di atas 2 (dua) “kaki”, yakni sebagai
akademisi pendidikan tinggi hukum dan sebagai ‘keluarga
agraria/pertanahan’. Benar saja, sebab sampai akhir hayatnya,
Prof. Boedi Harsono ada dalam kedua “rumah” itu, yakni sebagai
103

