Page 117 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 117

Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
            guru besar tetap FH Usakti dan guru besar tidak tetap pada beberapa
            perguruan tinggi lainnya serta sebagai anggota Kerukunan
            Pensiunan Pegawai Agraria/Pertanahan (KPPAP). Di sisi lain,
            Pandangan Prof. A.P. Parlindungan yang selalu kritis dan beranjak
            dari nilai dasar keadilan itu  kiranya juga tidak dapat dipisahkan
            dari posisinya sebagai guru besar Hukum Agraria yang selain
            aktif sebagai akademisi juga sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah
            (PPAT) dan sebagai akademisi yang dekat bergaul dengan  Lem-
            baga Swadaya Masyarakat (LSM). Prof. A.P. Parlindungan kerap-
            kali melihat dampak pembangunan hukum yang meminggirkan
            masyarakat kecil dari panggung kehidupan berbangsa dan berne-
            gara.
                Debat kedua mahaguru Hukum Agraria ini sangat keras dalam
            masalah Hak Ulayat. Prof. Boedi Harsono berkeyakinan bahwa
            pengaturan Hak Ulayat dalam UUPA hanya perlu sebatas hu-
            bungan hukum konkrit sebagaimana tampak pada Pasal 3 UUPA.
            Dalam pada itu, tidak perlu mengadakan pengaturan Hak Ulayat
            secara lengkap sebagai lembaga hukum dan hubungan hukum
            konkrit. Lebih tegas Boedi Harsono mengatakan mengatakan:

                “Sengaja UUPA tidak mengadakan pengaturan dalam bentuk peraturan
                perundangan mengenai Hak Ulayat, dan membiarkan pengaturannya tetap
                berlangsung menurut Hukum Adat setempat. Mengatur Hak Ulayat menurut
                perancang dan pembentuk UUPA akan berakibat menghambat perkembangan
                alamiah Hak Ulayat, yang pada kenyataannya memang cenderung melemah.
                Kecenderungan tersebut dipercepat dengan membikin bertambah kuatnya
                hak-hak individu, melalui pengaturannya dalam bentuk hukum yang tertulis
                dan penyelenggaran pendaftarannya yang menghasilkan surat-surat tanda
                pembuktian haknya. Melemahnya atau bahkan menghilangnya Hak Ulayat,
                diusahakan penampungannya dalam rangka pelaksanaan Hak Menguasai dari
                Negara, yang mencakup dan menggantikan peranan Kepala Adat dan para
                tetua adat masyarakat hukum adat yang bersangkutan dalam hubungannya
                dengan tanah-tanah yang sudah dihaki secara individual oleh para warga masya-
            104
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122