Page 216 - Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan: Partisipasi Politik, Klaim dan Konflik Agraria
P. 216

204   Tri Chandra Aprianto


                Sebagaimana cuplikan di atas, tanggal 10 Desember 1958 semua
            pimpinan berbagai perusahaan perkebunan milik Belanda di Jember
            untuk menerima pengumuman jika perusahaan perkebunan mereka
            telah  diambil-alih  oleh  Pemerintah  Republik  Indonesia. Memang
            cukup  mengejutkan  pengumuman  tersebut  bagi para  pemilik  hak
            erfpacht. Mereka  sangat  bimbang dengan  pengumuman  tersebut.
            Karena tidak semua pimpinan administratur perusahaan perkebunan
            milik  Belanda  dengan  sukarela  melaksanakan  proses  serah  terima
            tersebut. Mereka masih merasa memiliki hak erfpacht yang sah secara
            aturan hukum. Beberapa diantara pimpinan administratur perusahaan
            perkebunan yang turut hadir dalam pertemuan tersebut merasa tidak
            ada mandat dari pihak direksi masing-masing perusahaan perkebunan
            untuk  melaksanakan  tuntutan  pemerintah. Terdapat  beberapa




            perusahaan y  awalnya enggan untuk menyerahkan perusahaannya

            kepada  pemerintah. Landbouw    Maatschappij  Soekowono (LMS)
            merupakan perusahaan perkebunan yang tidak mau melakukan serah
            terima guna menyebut salah satu contohnya. 30
                Beberapa hari setelah pertemuan yang dilaksanakan di gedung
            bioskop  tersebut, Mayjen  Sarbini selaku  Panglima  Komando


            Daerah Militer Brawidjaya   para pimpinan



            direksi perusahaan  perkebunan  yang masih  enggan  menyerahkan
            perusahaannya, termasuk  para  pemilik  tidak  hadir  dalam  acara
            serah  terima  tersebut. Tentu  saja  undangan  dari pihak  pangdam
            tersebut  merupakan  tekanan  tersendiri yang dirasakan  oleh  para
            pemilik perusahaan perkebunan. Akhirnya mau tidak mau mereka
            menyerahkan  segala  asetnya  kepada  pemerintahan  RI. Adanya
            tekanan  tersebut, dua  hari berikutnya  mereka  melakukan  serah
            terima kepada pemerintahan RI.
                Hal berbeda  dengan  apa  yang telah  dilakukan  oleh  pimpinan
            perusahaan  perkebunan  milik  NV. Cultuur Maatschappij Djelboek


            30  Wawancara  Sumargo  1  dan  2  Juni  2004.  Wawancara  Ibrahim,  13
                September 2004.
   211   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221