Page 21 - SEJARAH PERLAWANAN TERHADAP IMPREALISME DAN KOLOLISME DI DAERAH SULAWESI TENGGARA
P. 21
Di beberapa tempat terjadi pelawanan rakyat yang tidak ingin
hidup di bawah kolonialis/imperialis Belanda. Pada tahun 1616,
Belanda meninggalkan Buton sementara hati rakyat terluka oleh
tindak laku Belanda yang menyimpang dari perjanjian. Sejak itu
semangat perlawanan rakyat Buton mulai berkobar. Perasaan benci
terhadap orang kulit putih tertanam di hati rakyat. Sejak itu pula
perhatian Belanda mulai menyorot ke arah penguasaan wilayah
Buton secara kekerasan. Gubernur Jenderal Van Diemen mencoba
memaksakan Sultan Buton untuk berdamai, namun kobaran se-
mangat perlawanan rakyat tak kunjung padam. Penduduk Buton
tidak ingin lagi diperdaya kompeni Belanda.
A.PERLAWANAN RAKYAT BUTON TERHADAP KOMPENI
BELAND A
1. PERLAWANAN SULTAN HIMAYATUDDIN MUHAMMAD
SAIDI OPUTA MOSABUNA I WASUAMBA.
a. Latar Belakang Perlawanan.
Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi adalah satu-
satunya Sultan Buton yang dua kali menjabat sebagai Sultan
terpilih. Ia menjabat Sultan Buton XX pada tahun 1751 -
I 7 5 2. Setelah dua orang Sultan Bu ton yang lain berkuasa,
maka atas keinginan rakyat ia terpilih kem bali sebagai Sultan
Buton XXIII dan memerintah pada I 760 - I 763.
Kenaikannya sebagai Sultan Buton XX adalah menggan-
tikan mertuanya Sultan Darul Alam Oputa Sangia Manuru
yang wafat pada tahun 1750. Sebelum menjabat Sultan,
Himayatuddin telah memangku jabatan Kapitan Laut (Pang-
lima Perang Kerajaan Buton). Sebagai seorang pejabat tinggi
kerajaan dan menantu Sultan, ia telah banyak mengetahui
keadaan/situasi politik kerajaan dari dekat, terutama dalam
hu bungannya dengan Kompeni Belanda. Himayatuddin
telah menyadari betapa peranan dan campur tangan Kompeni
Belanda dalam urusan pemerintahan kerajaan, sehingga
Kerajaan Buton seperti kehilangan kedaulatannya. Ia menge-
12