Page 26 - SEJARAH PERLAWANAN TERHADAP IMPREALISME DAN KOLOLISME DI DAERAH SULAWESI TENGGARA
P. 26
bahwa penjagaan di Kraton hanya terdiri dari senjata tajam dan
beberapa pucuk senjata api. Keadaan ini me maksakan para pasu-
kan harus bekerja keras dan hati-hati. Penyerbuan Kraton diren-
canakan dengan memperhatikan situasi seki tarnya. Pada tanggal
24 Februari 1755 di malam pekat buta, pasukan Belanda mulai
merayap menuju kaki benteng. Untuk langsung mem anjat
dinding benteng di waktu malam hari adalah sangat berbahaya,
karena pasukan Belanda belum mengetahui medannya. Pe-
nyerangan ini dilakukan pada waktu subuh sekitar pukul 03.00
melalui posisi utara benteng dengan jalan membagi dua kekuat-
annya yaitu sebagian menyerbu dari Lawana Lanto dan sebagian
dari Lawana Labunta. Pada pagi buta itu setelah pintu gerbang
dibuka oleh petugas pengawal benteng, pasukan Belanda yang
sudah disiap di muka pintu segera menyerbu masuk ke dalam
benteng kraton Buton.
Petugas jaga yang hanya menggunakan senjata tajam dan masih
belum sadar akan keadaan sekitarnya dengan mudah ditakluk-
di taklukkan tan pa perlawanan yang berarti.
Pasukan Belanda merayap menuju istana Sultan. Ketika
pasukan sudah berada di sekitar istana, penduduk kraton baru
menyadari akan situasi bahwa suasana perang telah melanda
kraton. Dari rumah seorang penJabat kerajaan terdengar tem-
bakan ke arah musuh sebagai tanda perlawanan dimulai. Para
pejabat kerajaan termasuk pejabat-pejabat tingginya segera
berlarian menuju istana untuk mempertahankan istana dan
keselamatan Sultan dari bahaya yang menimpa. Tembak me-
nembak terjadi di muka istana, sedang di sekitarnya terjadi adu
keris dan tombak dengan senjata.
Di dalam istana terjadi pertarungan berdarah. Sapati,
Kapita Laut, para menteri besar dan Bonto mengamuk dengan
keris. Tak ada lagi pertimbangan, keseimbangan persenjataan.
Di hati rakyat hanya ada dua petikan hidup atau mati. Sultan
Hamim sendiri telah mengambil bahagian di saat pasukan
kompeni memasuki istananya. Beberapa orangpasukan Belanda
gugur di dalam pertarungan itu.
Karena salah satu rencana Kompeni untuk menangkap
hidup atau mati Himayatuddin, maka disana perlawanan tidak
17