Page 30 - SEJARAH PERLAWANAN TERHADAP IMPREALISME DAN KOLOLISME DI DAERAH SULAWESI TENGGARA
P. 30

Hindia  Belanda.  Apalagi kalau kedudukan raja itu merupakan
              hadiah  dari  Pemerintah Belanda,  maka  secara politis  raja  itu
              harus  mengabdikan  diri  sepenuhnya  kepada  tuan  yang  telah
              mengangkatnya.    Tidak   kurang   raja    yang  terpaksa
              mengorbankan  rakyat  dan  daerahnya  demi  keselamatan
              hidup dan kekuasaannya.

                   Raja  sama  raja  diadu  dan  di  atas kehancuran mereka
              Belanda  menegakkan  kekuasaannya.  Politik Devide et impera
              merupakan  salah  satu  senjata  yang ampuh dalam mengobrak-
              abrik  kesatuan  dan  persatuan  mereka.  Usaha  Belanda
              menjalin  kerja  sama  dengan  raja-raja  di  Indonesia,  hanya
              merupakan  suatu  taktik  dalam  mempelajari  kelemahan
              pada  raja  yang  berkuasa,  perjanjian  persahabatan  antara raja
              dan  Pemerintah  Belanda  dibuat  dengan  tujuan  mengambil
              peluang  yang  baik  untuk  maksud  penguasaannya.  Setiap
              keresahan  dalam  masyarakat  pribumi      dijadikan  awal
              penanaman kekuasaan Belanda.
                   Di  Kerajaan  Buton,  dengan  mangkatnya  Sultan  Muh.
              Umar  Maimuddin  pada  tahun  1904,  suhu  politik  dalam
              kerajaan  menunjukkan grafik  yang  tinggi.  Keadaan itu meru-
              pakan  kesempatan  yang  baik  bagi  Belanda  untuk meniupkan
              politik  devide  et  impera.  Meskipun  Sultan  Muh.  Umar  telah
              mengikat janji dengan Pemerintah Belanda, namun pada masa
              kekuasaannya  Belanda  masih  ragu  mencetuskan  ide  politik-
              nya,  sebab Sultan  Muh.  Umar  terkenal  sebagai  salah  seorang
              raja perkasa yang didukung oleh segenap rakyatnya.
                   Korte  Verklaring  yang  tefah  ditandatangani  bersama
              oleh  Sultan  Muh.  Umar  dengan  Pemerintah  Belanda  pada
              tahun  1887  berisi  pernyataan bahwa wilayah Kerajaan Buton
              adalah  bagian  dari  wilayah  kekuasaan  Pemerintah  Belanda.
              Muh.  Umar  sebagai  Sultan  Buton  diberikan  kewenangan
              untuk mengurus rumah tangga kerajaannya serta menjalankan
              pemerintahan atas kuasa  Pemerintah Belanda.
                   Dengan  mangkatnya  Sultan  Muh.  Umar  pada  tahun
              1904,  maka  dilantiklah  Muh.  Asikin  Adil  Rahiym  sebagai
              Sultan  yang  baru  menggantikan  almarhum  Sultan  Muh.
              Umar.


                                                                      21
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35