Page 27 - SEJARAH PERLAWANAN TERHADAP IMPREALISME DAN KOLOLISME DI DAERAH SULAWESI TENGGARA
P. 27
seimbang. Banyak pasukan Belanda yang mati di ujung keris
Himayatuddin dan pengawal-pengawalnya, sebagian pasukan
Belanda menyerbu pendopo istana Sultan Makdzul
Himayatuddin. Terjadilah perlawanan yang sengit antara
pasukan Belanda dengan Himayatuddin dan pengawalnya yang
perkasa. Kesempatan itu digunakan Sultan Hamim untuk
segera mundur menyelamatkan keluarganya dari maut yang
merenggut.
Menurut orang-orang tua, pada saat itu Himayatuddin
telah mempertunjukkan keperkasaannya. Sekali ia mengayun-
kan kerisnya dua tiga orang pasukan Belanda jatuh tersungkur
di atas tanah. Perhatian musuh tertuju ke istana Himayatuddin.
Meskipun Sultan Hamim dan beberapa orang keluarganya dapat
diselamatkan oleh pasukan, namun beberapa orang pembesar
kerajaan seperti, Kapita Laut dan Menteri Besar Kerajaan Buton
gugur bersama beberapa kesatria dalam mempertahankan ke-
hormatan bangsanya.
Beberapa orang pengawal istana yang berusaha menyela-
matkan keluarga istana yang telah terkurung musuh terpaksa
menjadi korban peluru pasukan Belanda.
Sultan Hamim dan keluarganya diungsikan di sebuah ben-
teng Wakaesua yang telah disiapkan rakyat sebagai tempat
perlindungan. Setelah keluarga Himayatuddin dapat diungsikan
keluar kraton, dan Himayatuddin berhasil menewaskan/me-
mukul mundur musuh-musuhnya, iapun segera menyusul Sultan
ke W akaesua.
Pasukan pengawal kraton ditarik mundur untuk sementara
dan berkonsolidasi di benteng Wakaesua. Tindakan ini
dilakukan atas pertimbangan Sultan, mengingat telah
banyaknya pejabat kerajaan yang gugur dalam pertempuran itu.
Dua orang keluarga Himayatuddin ikut tertawan musuh, yaitu
puterinya Waode Wakato dan cucunya bernama Waode Kamili
yang sementara dalam buaian.
Pasukan Belanda tidak berani lagi melanjutkan per-
tempuran ke Wakaesua karena mereka tidak mengetahui situasi
medan, apalagi di pihak merekalah banyak yang gugur.
18