Page 197 - 16Feb18-BG Kristen kelas IX.indd
P. 197
3. Rentan terhadap Pembunuhan
Di beberapa masyarakat, anak-anak berkebutuhan khusus termasuk sering
kali rentan terhadap pembunuhan. Hal ini terjadi karena anak tersebut dianggap
sebagai pembawa bencana atau mereka ingin mempertahankan status keluarga.
4. Dibuang
Dalam banyak kasus anak tunadaksa juga sering di buang untuk menghindari
noda keluarga.
5. Dikurung
Keadaan ini terjadi untuk menyembunyikan hal yang dianggap aib keluarga.
Dalam keluarga mereka diasingkan, atau dikucilkan dan disembunyikan. Beberapa
keluarga mengirim anak berkebutuhan khusus ke pusat penampungan anak
berkebutuhan khusus, namun mereka sangat jarang di kunjungi oleh keluarga.
6. Buta Huruf
Pribadi berkebutuhan khusus sering tidak menerima perlakuan dan hak
pendidikan. Banyak yang mengalami drop out dan buta huruf.
7. Disia-Siakan atau Diterlantarkan
Banyak orang dengan kebutuhan khusus yang disia-siakan oleh keluarga,
padahal banyak yang dapat mengalami pemulihan.
Kegiatan 2: Portofolio.
Siswa diminta mengamati orang-orang berkebutuhan khusus di lingkungannya (di
keluarga, sekolah, gereja, atau komunitas). Apakah siswa punya teman-teman secara
dekat terutama yang memiliki kebutuhan khusus? Bagaimana siswa berelasi dengan
mereka? Siapakah mereka itu? Bagaimana kondisinya? Bagaimana lingkungannya?
Bagaimana sikap dan pandangan orang pada umumnya terhadap mereka?.
C. Teman dengan Kebutuhan Khusus dan Pendidikan
Pada hakikatnya, semua orang di Indonesia, baik yang normal maupun yang
memiliki kebutuhan khusus, memiliki kesempatan yang sama dalam hal pendidikan
dan pengajaran. Meskipun memang harus diakui bahwa teman yang mempunyai
kebutuhan khusus dalam realita memiliki berbagai hambatan dalam kondisi fi sik dan
kadang-kadang juga psikisnya. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan perilaku dan kehidupannya. Sering kali mereka juga disebut
sebagai remaja luar biasa, hal itu di asumsikan berkaitan dengan kondisi jasmani,
mental, maupun rohani yang berbeda dibanding dengan remaja normal. Oleh
karena itu, remaja tersebut digolongkan sebagai golongan luar biasa, karena tidak
dapat dimasukkan dalam kategori sebagai anak normal baik fisik, mental maupun
intelegensinya.
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti
189

