Page 688 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 688
http://pustaka-indo.blogspot.com
dirasakan di kedalaman wujud. Tuhan ini harus didekati
melalui imajinasi dan dapat dilihat sebagai sebentuk seni,
serumpun dengan simbol-simbol artistik lainnya yang
mengungkapkan misteri tak terlukiskan, keindahan, dan nilai
kehidupan. Kaum mistik telah menggunakan musik, tarian,
syair, fiksi, kisah-kisah, lukisan, pahatan, dan arsitektur untuk
mengungkapkan Realitas yang melampaui konsep-konsep ini.
Akan tetapi, sebagaimana semua seni, mistisisme
membutuhkan kecerdasan, disiplin, dan swakritik sebagai
benteng terhadap emosionalisme dan proyeksi yang
berlebihan. Tuhan kaum mistik bahkan bisa memuaskan
kaum feminis, karena baik sufi maupun Kabbalis telah sejak
lama berusaha memasukkan unsur kewanitaan ke dalam
yang ilahi.
Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan. Mistisisme
telah dipandang mencurigakan oleh banyak umat Yahudi dan
Muslim terutama sejak kemurtadan Shabbetai Zevi dan
kemunduran sufisme masa belakangan. Di Barat, mistisisme
tak pernah menjadi arus utama gairah keagamaan. Para
pembaru Katolik dan Protestan mengabaikan atau
meminggirkannya, dan Zaman Akal ilmiah tidak mendukung
persepsi semacam ini. Sejak 1960-an telah tumbuh
ketertarikan baru terhadap mistisisme, yang terungkap
melalui antusiasme terhadap Yoga, meditasi, dan Buddhisme.
Akan tetapi, ini bukanlah pendekatan yang mudah
disesuaikan dengan mentalitas objektif dan empirik kita.
Tuhan kaum mistik tidak mudah dipahami. Dibutuhkan latihan
lama bersama seorang ahli dan investasi waktu yang cukup
panjang. Seorang mistikus harus bekerja keras untuk meraih
pengalaman tentang realitas yang dikenal sebagai Tuhan
(yang banyak di antara mereka menolak untuk menamainya).
Kaum mistik sering mengatakan bahwa manusia harus
secara sengaja menciptakan pengalaman tentang Tuhan ini
~681~ (pustaka-indo)

