Page 684 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 684
http://pustaka-indo.blogspot.com
saling serupa, yang juga mirip dengan konsepsi lain tentang
Yang Mutlak. Ketika orang mencoba menemukan makna
dan nilai tertinggi dalam kehidupan kemanusiaan, pikiran
mereka tampaknya menuju ke satu arah. Mereka tidak
dipaksa untuk melakukan ini; tampaknya ini merupakan
sesuatu yang alamiah bagi umat manusia.
Agar perasaan tidak merosot menjadi pelampiasan hawa
nafsu, agresif atau emosionalisme yang tak sehat, ia perlu
diarahkan oleh nalar kritis. Pengalaman tentang Tuhan harus
diiringi oleh antusiasme lain, termasuk antusiasme akal.
Eksperimen falsafah merupakan sebuah usaha untuk
mengaitkan iman kepada Tuhan dengan kultus rasionalisme
baru di kalangan Yahudi, Muslim dan, kemudian, Kristen
Barat. Kaum Muslim dan Yahudi akhirnya mundur dari
filsafat. Rasionalisme, menurut mereka, hanya bermanfaat
bagi kajian empirik semacam sains, kedokteran, dan
matematika, tetapi tidak sesuai untuk pembahasan tentang
Tuhan yang berada di atas konsep-konsep. Orang Yunani
telah merasakan ini dan sejak awal menolak metafisika asli
mereka. Salah satu kelemahan metode filosofis dalam
membahas tentang Tuhan adalah kesan yang ditimbulkannya
seakanakan Tuhan Mahatinggi itu sekadar sebuah Wujud
lain, yang tertinggi dari segala yang ada, bukannya suatu
realitas dari tatanan yang benar-benar berbeda. Sungguhpun
demikian, upaya falsafah itu penting, sebab ia menunjukkan
apresiasi terhadap perlunya mengaitkan Tuhan dengan
pengalaman lain—sekalipun hanya untuk mendefinisikan
batas terjauh pengalaman itu. Memaksakan Tuhan ke dalam
isolasi intelektual, ke dalam ruang suci miliknya sendiri,
merupakan tindakan yang tidak sehat dan tidak alamiah. Ini
akan mendorong orang untuk berpikir bahwa perilaku yang
diilhami oleh “Tuhan” tidak perlu dikenakan standar normal
dalam soal kepantasan dan rasionalitas.
~677~ (pustaka-indo)

