Page 683 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 683
http://pustaka-indo.blogspot.com
Israel juga mengembangkan nilai tanggung jawab pribadi
yang merupakan nilai penting dalam Yudaisme maupun
14
Islam. Telah kita saksikan bahwa para rabi menggunakan
ide tentang Tuhan yang imanen untuk membantu orang
Yahudi menumbuhkan pengertian tentang hak-hak suci
manusia. Namun, keterasingan terus menjadi ancaman di
dalam ketiga agama besar dunia: di Barat pengalaman
tentang Tuhan selalu diiringi rasa bersalah dan antropologi
yang pesimistik. Dalam Yudaisme dan Islam tak disangsikan
bahwa penunaian Taurat dan Syariat kadang dianggap
sebagai kepatuhan heteronom terhadap suatu hukum lahiriah,
sekalipun telah kita saksikan bahwa tak ada tujuan lebih jauh
yang dimaksudkan oleh penyusun hukum-hukum ini.
Orang ateis yang menyerukan pembebasan dari Tuhan yang
menuntut ketaatan seperti budak itu, menentang
penggambaran yang tak layak, namun telanjur populer
tentang Tuhan. Lagi-lagi, ini didasarkan pada konsepsi
ketuhanan yang terlalu personalistik. Konsepsi itu
menafsirkan gambaran kitab suci tentang Tuhan secara
sangat harfiah dan mengasumsikan bahwa Tuhan adalah
sejenis Big Brother di langit. Gambaran tentang ilah tiran
yang memaksakan hukum asing kepada hamba-hamba
manusia yang tak berdaya harus dihapuskan. Meneror orang
banyak dengan berbagai ancaman agar menjadi patuh sudah
tak bisa lagi diterima atau bahkan dapat digunakan,
sebagaimana telah secara dramatis dibuktikan oleh kejatuhan
rezim komunis pada musim gugur 1989. Ide antropomorfik
tentang Tuhan sebagai Pembuat hukum dan Penguasa tidak
sesuai lagi dengan karakter mental pascamodern.
Sungguhpun demikian, kaum ateis yang mengatakan bahwa
ide tentang Tuhan itu tidak alamiah tidak seluruhnya benar.
Telah kita saksikan bahwa orang Yahudi, Kristen, dan
Muslim telah mengembangkan ide-ide tentang Tuhan yang
~676~ (pustaka-indo)

