Page 679 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 679
http://pustaka-indo.blogspot.com
Tidak mengherankan jika orang-orang yang mendengar
pernyataan yang profan ini, yang membuat “Tuhan”
menyangkal hak asasi bangsa lain, berpikir bahwa semakin
cepat kita membinasakannya akan semakin baik.
Akan tetapi, sebagaimana telah kita tinjau pada bab yang
lalu, bentuk religiusitas seperti ini merupakan gerak
menjauhkan diri dari Tuhan. Menjadikan fenomena historis
dan manusiawi seperti “Nilai Keluarga” Kristen, “Islam”
atau “Tanah Suci” sebagai fokus pengabdian keagamaan
merupakan bentuk keberhalaan baru. Rasa benar sendiri ini
telah menjadi godaan yang terus mengusik kaum monoteis
sepanjang sejarah. Hal seperti ini harus ditolak karena tidak
autentik. Tuhan kaum Yahudi, Kristen, dan Muslim berangkat
dari titik awal yang tidak menguntungkan, karena ilah
kesukuan Yahweh memihak habis-habisan hanya kepada
umatnya sendiri. Pasukan salib yang belakanganlah
membangkitkan kembali etos primitif ini. Mereka
mengangkat nilai kesukuan ke status yang tinggi dan
menempatkan ideal-ideal buatan manusia sebagai pengganti
realitas transenden. Mereka juga menafikan tema
monoteistik yang penting. Sejak para nabi Israel mereformasi
kultus pagan Yahweh, Tuhan kaum monoteis mengutamakan
nilai kasih sayang.
Telah kita saksikan bahwa kasih sayang merupakan ciri
sebagian besar ideologi yang diciptakan selama Zaman
Kapak. Nilai kasih sayang bahkan mendorong kaum Buddhis
untuk membuat perubahan besar dalam orientasi keagamaan
mereka ketika pengabdian (bhakti) diperkenalkan ke dalam
Buddha dan bodhisattva. Para nabi telah mengajarkan
bahwa kultus dan penyembahan tidak berguna, kecuali jika
masyarakat secara keseluruhan mengadopsi etos yang lebih
adil dan berkasih sayang. Pandangan semacam ini
~672~ (pustaka-indo)

