Page 676 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 676

http://pustaka-indo.blogspot.com
             ide  tentang  Tuhan  takkan  ada  makna,  kebenaran,  atau
             moralitas mutlak: etika hanya menjadi soal selera, rasa, atau
             perilaku.  Tanpa  ide  tentang  “Tuhan”,  politik  dan  moralitas
             akan menjadi pragmatik dan licik, tidak bijak. Jika tidak ada
             yang  mutlak,  tak  ada  alasan  untuk  tidak  bermusuhan  atau
             bahwa  perang  lebih  buruk  daripada  damai.  Agama  pada
             dasarnya  merupakan  perasaan  batin  bahwa  ada  Tuhan.
             Salah  satu  impian  kita  yang  paling  awal  adalah  kerinduan
             akan  keadilan  (betapa  sering  kita  mendengar  seorang  anak
             memprotes: “Itu tidak adil!”). Agama merekam aspirasi dan
             gugatan  manusia  di  hadapan  penderitaan  dan  kekeliruan.
             Agama  membuat  kita  sadar  akan  keterbatasan  kita;  kita
             semua berharap ketidakadilan di dunia akan segera berakhir.

             Kenyataan  bahwa  orang  yang  tidak  memiliki  kepercayaan
             keagamaan  konvensional  terus  kembali  kepada  tema-tema
             sentral  yang  telah  kita  temukan  dalam  sejarah  Tuhan
             menunjukkan  bahwa  ide  itu  tidaklah  seasing  yang  kita
             bayangkan. Namun demikian, selama paro kedua abad kedua
             puluh, ada gerakan menjauh dari ide tentang Tuhan personal
             yang berperilaku seperti diri kita. Tak ada yang baru dalam
             gerakan  ini.  Seperti  yang  kita  telah  saksikan,  kitab  suci
             Yahudi,  yang  oleh  orang  Kristen  disebut  Perjanjian  “lama”
             mereka,  memperlihatkan  proses  yang  serupa;  Al-Quran
             sejak  awal  menyebut  Allah  dalam  istilah  yang  kurang
             personal  dibandingkan  tradisi  Yudeo-Kristen.  Doktrin
             semacam  Trinitas  dan  mitologi  serta  simbolisme  sistem
             mistikal  semuanya  berupaya  menunjukkan  bahwa  Tuhan
             melebihi  personalitas.  Namun,  ini  tampaknya  tidak  menjadi
             jelas  dengan  sendirinya  bagi  kebanyakan  orang  beriman.
             Ketika  John  Robinson,  Uskup  Woolwich,  menerbitkan
             Honest  to  God  pada  1963,  yang  menyatakan  bahwa  dia
             tidak  bisa  lagi  tunduk  kepada  Tuhan  personal  lama  yang
             berada  “di  luar  sana”,  timbul  kegemparan  di  Inggris.




                            ~669~ (pustaka-indo)
   671   672   673   674   675   676   677   678   679   680   681