Page 673 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 673

http://pustaka-indo.blogspot.com
             dan  Talmud.  Berbeda  dengan  Buber,  dia  percaya  bahwa
             mitzvot  akan  membantu  orang  Yahudi  melawan  aspek
             dehumanisasi modernitas. Mitzvot merupakan tindakan yang
             lebih  memenuhi  kebutuhan  Tuhan  daripada  kebutuhan  kita
             sendiri. Kehidupan modern ditandai oleh depersonalisasi dan
             eksploitasi:  bahkan  Tuhan  direduksi  menjadi  sesuatu  untuk
             dimanipulasi  dan  melayani  tujuan-tujuan  kita.  Akibatnya
             agama menjadi suram dan membosankan: kita membutuhkan
             “teologi kedalaman” untuk masuk ke bawah struktur-struktur
             dan memulihkan kekaguman, misteri, dan ketakjuban semula.
             Tak  ada  manfaatnya  mencoba  membuktikan  eksistensi
             Tuhan  secara  logis.  Iman  kepada  Tuhan  memancar  dari
             pemahaman  langsung  yang  tidak  ada  kaitannya  dengan
             konsep-konsep dan rasionalitas. Alkitab harus dibaca secara
             metaforik  seperti  puisi  agar  melahirkan  kepekaan  tentang
             yang  sakral.  Mitzvot  juga  mesti  dipandang  sebagai  gerak
             simbolik  yang  melatih  kita  untuk  hidup  dalam  kehadiran
             Tuhan.  Setiap mitzvot  merupakan  tempat  pertemuan  dalam
             pernik kehidupan dunia dan, seperti halnya karya seni, alam
             mitzvot  itu  memiliki  logika  dan  ritmenya  sendiri.  Di  atas
             segalanya,  kita  harus  sadar  bahwa  Tuhan  membutuhkan
             manusia.  Dia  bukanlah  Tuhan  yang  jauh  sebagaimana
             dikonsepsikan  para  filosof,  namun  yang  peduli  terhadap
             penderitaan  umat  manusia  sebagaimana  digambarkan  oleh
             para nabi.


             Para filosof ateis juga tertarik pada gagasan tentang Tuhan
             selama  paro  kedua  abad  kedua  puluh.  Dalam  Being  and
             Time  (1927),  Martin  Heidegger  (1899-1976)  memandang
             Wujud  dalam  cara  yang  hampir  sama  dengan  Tillich,
             meskipun  dia  menolak  bahwa  itu  adalah  “Tuhan”  dalam
             pengertian Kristen: dia berbeda dari wujud-wujud partikular
             dan dari kategori pemikiran normal. Sebagian orang Kristen
             telah diilhami oleh karya Heidegger, meskipun nilai moralnya




                            ~666~ (pustaka-indo)
   668   669   670   671   672   673   674   675   676   677   678