Page 668 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 668
http://pustaka-indo.blogspot.com
8
itu, saya tidak bisa merasakan wujud Tuhan.
Dia melukiskan Tuhan sebagai “sahabat yang hebat, teman
sependeritaan, yang mengerti”. Williams menyukai definisi
Whitehead; dia suka berbicara tentang Tuhan sebagai
9
“perilaku” dunia atau sebuah “peristiwa”. Adalah keliru
untuk menempatkan tatanan adialami di atas sebagai lawan
dunia alamiah kesadaran kita. Hanya ada satu tatanan
wujud. Ini bukan reduksionistik. Dalam konsep kita tentang
yang alamiah kita mesti memasukkan semua aspirasi,
kapasitas, dan potensi yang pernah dipandang mukjizati. Ini
akan mencakup pula “pengalaman keagamaan” kita,
sebagaimana yang selalu dinyatakan oleh orang Buddha.
Ketika ditanya apakah dia pikir Tuhan terpisah dari alam,
Williams menjawab bahwa dia tidak yakin. Dia membenci
gagasan Yunani kuno tentang apatheia, yang menurutnya
nyaris merupakan penghujatan: gagasan itu mengetengahkan
Tuhan yang berjarak, tidak peduli, dan egois. Dia menolak
tuduhan bahwa dirinya menganjurkan panteisme. Teologinya
hanya berusaha untuk meluruskan ketidakseimbangan, yang
diakibatkan oleh Tuhan yang membuat kita teralienasi, Tuhan
yang mustahil untuk diterima setelah tragedi Auschwitz dan
Hiroshima.
Yang lainnya kurang optimis terhadap kemajuan dunia
modern dan ingin mempertahankan transendensi Tuhan
sebagai tantangan bagi umat manusia. Jesuit Karl Rahner
telah mengembangkan teologi yang lebih transendental, yang
memandang Tuhan sebagai misteri tertinggi dan Yesus
sebagai manifestasi pasti bagi apa yang dapat diraih manusia.
Bernard Lonergan juga menekankan arti penting
transendensi dan pikiran sebagai lawan dari pengalaman.
Akal semata tidak bisa mencapai visi yang dicarinya: akal tak
henti-hentinya tersandung pada penghalang pemahaman
~661~ (pustaka-indo)

