Page 664 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 664
http://pustaka-indo.blogspot.com
kelihatannya merupakan hal terburuk: pengalaman
disingkirkan, akal alamiah diabaikan, pikiran manusia tak
layak dipercaya; dan tak ada kemungkinan untuk belajar dari
kepercayaan lain, sebab hanya Alkitablah wahyu yang sah.
Tampaknya tidak sehat untuk menggabungkan skeptisisme
seradikal itu dengan penerimaan kebenaran kitab suci tanpa
sikap kritis.
Paul Tillich (1868-1965) yakin bahwa Tuhan personal teisme
Barat tradisional harus dienyahkan, namun dia juga percaya
bahwa agama tetap penting bagi umat manusia. Kecemasan
yang berakar-dalam merupakan bagian dari kondisi manusia:
kecemasan ini bukanlah neurotik sebab ia tak bisa
dilenyapkan dan tak ada terapi yang dapat
menyembuhkannya. Kita senantiasa takut akan kehilangan
dan kepunahan, ketika kita melihat tubuh kita secara
perlahan namun pasti semakin menua. Tillich setuju dengan
Nietzsche bahwa Tuhan personal merupakan gagasan yang
berbahaya dan layak mati:
Konsep “Tuhan Personal” yang campur tangan
dalam kejadian alam, atau menjadi “sebab yang
independen bagi kejadian alam,” membuat Tuhan
menjadi objek alamiah di samping yang lain,
sebuah objek di tengah objek-objek lain,
sebuah wujud di antara wujud-wujud yang lain,
mung-kin yang tertinggi, meskipun demikian
tetap sebuah wujud. Ini jelas bukan hanya
merusak sistem fisikal, melainkan juga
merusak setiap gagasan bermakna tentang
Tuhan. 7
Tuhan yang selalu mengutak-atik alam semesta adalah
absurd; Tuhan yang mencampuri kebebasan dan kreativitas
manusia adalah tiran. Jika Tuhan dipandang sebagai suatu
diri di alam yang merupakan miliknya, suatu ego yang terkait
~657~ (pustaka-indo)

