Page 669 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 669
http://pustaka-indo.blogspot.com
yang menuntut perubahan perilaku kita. Dalam semua
kebudayaan, manusia diarahkan oleh dorongan yang sama:
menjadi cerdas, bertanggung jawab, bernalar, mencintai dan,
jika perlu, berubah. Oleh karena itu, watak dasar manusia
menuntut kita untuk mentransendensi diri dan persepsi kita
saat ini, dan prinsip ini mengindikasikan keberadaan apa yang
disebut sebagai Tuhan di dalam hakikat dasar seluruh
persoalan kemanusiaan. Akan tetapi, teolog Swiss hans Urs
von Balthasar meyakini bahwa alih-alih mencari Tuhan di
dalam logika dan abstraksi, kita harus berpaling kepada seni:
wahyu Katolik pada dasarnya bersifat Inkarnasional. Dalam
kajian cemerlang atas Dante dan Bonaventura, Balthasar
menunjukkan bahwa orang Katolik telah “melihat” Tuhan
dalam bentuk manusia. Penekanan mereka terhadap
keindahan dalam gerak ritual, drama dan dalam karya
seniman-seniman besar Katolik menunjukkan bahwa Tuhan
ingin ditemukan melalui indra dan tidak hanya melalui akal
dan bagian diri manusia yang lebih abstrak.
Kaum Muslim dan Yahudi juga mencoba berpaling ke masa
lalu untuk menemukan gagasan tentang Tuhan yang sesuai
dengan masa kini. Abu Al-Kalam Azad (w. 1959), teolog
Pakistan terkemuka, kembali ke Al-Quran untuk menemukan
cara memandang Tuhan yang tidak terlalu transenden
sehingga nyaris tiada dan tidak terlalu personal sehingga
menjadi berhala. Dia mengarah kepada watak simbolik
wacana Al-Quran, mencatat adanya keseimbangan antara
deskripsi metaforik, figuratif dan antropomorfik, di satu pihak,
dan peringatan terus-menerus bahwa Tuhan tidak bisa
diperbandingkan, di pihak lain. Yang lain kembali kepada
kaum sufi untuk memperoleh wawasan tentang hubungan
Tuhan dengan dunia. Sufi Swiss Frithjof Schuon
menghidupkan kembali doktrin Kesatuan Wujud (Wahdat Al-
Wujud) yang dahulu dinisbahkan kepada Ibn Al-Arabi.
~662~ (pustaka-indo)

